Surabaya, BeritaTKP.com – Mantan Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat didatangkan dalam sidang Tragedi Kanjuruhan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, pada Senin (16/1/2023) lalu. Ferli hadir menjadi saksi dua terdakwa Abdul Haris dan Suko Sutrisno.

Di dalam sidang, Ferli memberikan kesaksian betapa mengerikannya situasi di pintu 13 Stadion Kanjuruhan seusai laga Arema FC vs Persebaya. Ferli sendiri mengaku pertama kali mengetahui tragedi terseubut setelah mendapat kabar dari salah satu penonton. Saat itu ia diberitahu bahwa ada orang yang tergeletak dan terjepit di pintu 13.

Mantan Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat saat memberikan kesaksian.

“Kami ditemui salah satu penonton dan menyampaikan ‘pak, ada yang tergeletak di pintu 13’, dekat lobi juga disampaikan hal sama, ada yang kejepit. Lalu kami bersama anggota untuk ke pintu 13 melakukan pengecekan langsung,” tutur Ferli di ruang Cakra PN Surabaya, Kamis (19/1/2023) kemarin.

Ferli menambahkan korban yang paling banyak dievakuasi sepengetahuannya juga berasal dari pintu 13. “Setahu kami hanya di pintu 13, karena saat proses evakuasi yang kami kunjungi hanya 13 dan lobi, jadi tidak memperhatikan pintu lain,” kata Ferli.

Mengetahui banyak korban berjatuhan, Ferli mengaku sempat bertanya apa yang terjadi di dalam. Karena saat kejadian, ia mengawal pemain Persebaya naik barakuda yang tengah dihadang massa suporter di luar.

“Seingat saya pas balik ke lobi, kami tanya ke Kabag Ops tentang situasi di dalam, disebut masih dalam proses pencairan. Waktu itu fokus melakukan evakuasi dengan cepat karena korban di pintu 13 cukup banyak,” tutur Ferli.

Ferli menuturkan keberingasan suporter yang hendak menghadang barakuda yang memuat pemain Persebaya usai laga. Mengetahui hal itu, Ferli langsung keluar coba menenangkan massa suporter.

“Saya di depan menemui massa Aremania yang melakukan penghadangan di jalan keluar, lalu menjatuhkan baliho-baliho, dicopotin dan taruh di tengah jalan,” terang Ferli di ruang Cakra PN Surabaya saat memberi kesaksiannya, Kamis (19/1/2023) kemarin.

“Kami terus mengimbau agar tak menghalangi. Tapi semakin ramai dan (Ferli) mundur ke belakang karena ada yang melempar walau gak kena ke kami,” imbuhnya.

Mengetahui massa Aremania yang semakin beringas, Ferli kemudian menemui Kasat Samapta. Ia memerintahkan untuk memajukan mobil water cannon dan penerangan massa agar barakuda yang ditumpangi pemain Persebaya lewat.

“Bertemu kasat samapta di ujung belakang barakuda dan di situ saya minta untuk menggeser mobil water cannon dan mobil penerangan massa ke depan massa atau pintu masuk depan stadion. Tapi tidak bisa masuk dan tidak bisa maju karena ada besi pembatas yang diikat satu sama lain, setelah kami perintahkan kemudian mencari driver dan water cannon tapi belum bisa melewati,” jelasnya.

Pada saat itu lah Ferli kemudian diberitahu kondisi kekacauan di pintu stadion. Karena banyak penonton yang terjebak di pintu berebut keluar setelah tembakan gas air mata.

“Ketika selesai evakuasi, tanya ke wakapolres tentang kejadian yang ada di dalam, ada penonton yang turun memantik penonton lain ikut turun, yang awalnya memeluk pemain selanjutnya memenuhi pemain, kiper malah sempat dikerubuti suporter yang turun, lalu akhirnya ditembakkan gas air mata,” tandas Ferli. (Din/RED)