Timor Tengah Selatan, BeritaTKP.com – Sebanyak 49 ekor sapi milik warga di Desa Tunua, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan mati setelah wilayah tersebut diguyur hujan selama beberapa hari berturut-turut. Dinas Peternakan setempat menduga cuaca ekstrem menjadi pemicu kematian puluhan ternak tersebut.
Pemerintah daerah kini masih melakukan pendataan terhadap kerugian yang dialami para peternak.
Hujan Tiga Hari Diduga Jadi Pemicu
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTS, John Banunaek, membenarkan laporan mengenai kematian puluhan sapi di Desa Tunua.
“Total ada 49 ekor sapi mati mendadak di Desa Tunua,” ujar John Banunaek, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak 24 Juli 2026 malam hingga 27 Juli 2026 pagi.
Sapi Terendam Lumpur dan Mengalami Kedinginan
John menjelaskan, selama hujan berlangsung, banyak ternak terus berada di area terbuka hingga tubuhnya terendam lumpur. Kondisi tersebut diduga menyebabkan sapi mengalami kedinginan sebelum akhirnya mati.
“Gejalanya kedinginan dan tubuh terendam lumpur karena tidak segera dipindahkan atau dialihkan ke tempat yang lebih aman oleh pemiliknya,” jelasnya.
Selain mengalami kedinginan, beberapa sapi dilaporkan menunjukkan gejala gemetar hebat sebelum roboh.
Puluhan Peternak Terdampak
Dari total 49 ekor sapi yang mati, sebanyak 15 ekor berada di Dusun 2, sedangkan 34 ekor lainnya ditemukan mati di Dusun 3.
Di antara ternak yang mati tersebut, terdapat enam ekor sapi jantan berusia sekitar dua tahun milik Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM).
Sementara itu, di Dusun 3 saja tercatat 20 peternak mengalami kerugian akibat peristiwa tersebut. Beberapa warga yang kehilangan ternaknya antara lain Paulus Baun, Apris Uki, Lukius Liem, Yakob Baun, dan Okran Naben.
Pemerintah Lakukan Pendataan Kerugian
Dinas Peternakan Kabupaten Timor Tengah Selatan saat ini masih mendata jumlah kerugian yang dialami masyarakat akibat kematian ternak tersebut.
Pemerintah daerah juga mengimbau para peternak untuk segera memindahkan hewan ternaknya ke lokasi yang lebih aman dan terlindung ketika terjadi cuaca ekstrem guna mengurangi risiko kejadian serupa.(æ/red)





