Trenggalek, BeritaTKP.com – Kasus penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) semakin merebak. Dinas Peternakan Trenggalek, menemukan 103 ekor sapi yang positif terjangkit penyakit tersebut. Kabar buruknya, dua diantara 103 ekor sapi tersebut mati.

“Dari 103 kasus tersebut dua di antaranya mati, itu terjadi di Kecamatan Bendungan,” ujar Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek Ririn Hari Setiani, Jumat (10/3/2023) kemarin.

Sapi yang terkena penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

Ririn Hari Setiani mengatakan bahwa 103 sapi yang terjangkit LSD tersebut tersebar di 4 kecamatan yang ada di Kabupaten Trenggalek. Yakni di Tugu, Bendungan, Pule, dan Kecamatan Bendungan. “Dari empat kecamatan itu paling banyak terjadi di Kecamatan Tugu, khususnya di Desa Gading. Di wilayah Tugu jumlah sapi positif LSD mencapai 61 ekor,” kata Ririn.

Penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV) tersebut menyerang 28 ekor sapi di Kecamatan Bendungan, 12 ekor sapi di Kecamatan pule, dan 2 ekor sapi di Kecamatan Karangan.

Kemunculan kasus LSD di Kabupaten Trenggalek tersebut terdeteksi pertama kali terjadi pada awal Februari 2023. Temuan kasus pertama di Desa Gading, Kecamatan Tugu, dengan kondisi sapi mengalami demam dan muncul bentol-bentol di tubuhnya.

“Awalnya kami dapat laporan, kemudian kami datangi dan dari indikasi awal kami sudah menduga jika sapi itu terkena LSD. Kemudian kami mengambil langkah pengobatan dan melakukan uji laboratorium,” imbuhnya.

Lewat temuan awal tersebut, pihaknya melakukan perluasan pemeriksaan dengan mengidentifikasi peternakan sapi di sekitarnya. Dan hasilnya, puluhan sapi positif terjangkit penyakit LSD.

“Kebetulan lokasi awal ini berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo, karena di sana sudah ada yang kena juga. LSD ini adalah virus, hanya saja ada vektornya, seperti lalat kandang, caplak, serta nyamuk,” jelasnya.

Kasus penyebaran LSD di Trenggalek selama 2 bulan terakhir terus meningkat. Dari awal di Desa Gading, Kecamatan Tugu meluas ke sejumlah desa di empat kecamatan lainnya. Ririn menduga penyebaran serangan LSD itu akibat lalu lintas perdagangan sapi antarkota maupun antarprovinsi.

“Karena ada juga warga yang membeli sapi dari daerah yang sudah terkena LSD. Selain itu ada kemungkinan migrasi vektor pembawanya dari titik satu ke titik lain,” kata Ririn.

Untuk menangani kasus ini, Dinas Peternakan Trenggalek melakukan berbagai cara, mulai dari pemberian antibiotik hingga penyemprotan disinfektan. Tidak hanya itu pihaknya juga meminta masyarakat untuk sementara tidak melakukan aktivitas perdagangan sapi dengan daerah yang terserang LSD serta melakukan karantina mandiri.

“Kami mengimbau para peternak agar menjaga kebersihan kandang. Jangan hanya membersihkan kandang, tapi menaruh kotoran di dekatnya, karena bisa mendatangkan vektornya. Selain itu juga diimbau untuk penyemprotan disinfektan,” jelasnya. (Din/RED)