
Blitar, BeritaTKP.com – Jika upacara bendera pada umumnya akan dilaksanakan di lapangan luas, maka berbeda dengan warga Desa Selorejo, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar. Mereka melaksanakan upacara bendera di area makam atau kuburan desa setempat.
Hal itu terekam dalam sebuah video yang diunggah oleh beberapa akun media sosial, salah satunya akun Instagram @jelajahblitar. Dalam video berdurasi 31 detik tersebut, terlihat juru kunci makam yakni Mbah Sukir dijadikan sebagai pemimpin upacara.
Dalam kegiatan tersebut, Sukir yang bertindak selaku pemimpin upacara mengenakan pakaian serba putih dengan songkok hitam. Sedangkan petugas dan peserta upacara, sepakat memakai baju jadul dengan kebaya bagi peserta wanita dan beskap bagi peserta pria.
“Dalam upacara tadi saya berdoa agar negeri ini ayem tentrem Karta Raharjo. Masyarakatnya rukun damai. Karena negara bisa kuat jika rakyat bersatu,” kata Sukir, juru kunci Makam Hastana Purwalaya, Jumat (18/08/23).
Tak hanya jadi pemimpin, Sukir juga pencetus ide menggelar upacara 17 Agustus di TPU tersebut. Pria yang menjabat sebagai Kaur Kesra Desa Selorejo tersebut mengaku awalnya iri dengan kegiatan upacara yang biasa digelar di lapangan. Menurutnya, seluruh masyarakat Indonesia berhak merayakan kemerdekaan dimanapun tempatnya, tidak terkecuali di tempat pemakaman umum.
“Bener saya yang pengen upacara disini. Saya iri kok semua-semua upacara di lapangan. Padahal disini juga tempat yang bersih dan bagus untuk mensyukuri kemerdekaan negeri ini. Saya tanya tidak ada larangan untuk upacara disini. Ya sudah, saya beritahu warga dan mereka setuju,” ungkapnya.
Sukir sendiri telah didapuk menjadi juru kunci Makam Hastana Purwalaya sejak 33 tahun yang lalu. Ia mengaku, tidak ada yang memerintahnya untuk mengurusi makam tua itu. Sukir mendapatkan petunjuk dari sang kuasa agar membersihkan dan menjaga makam desa seluas satu hektare tersebut.
Sukir mengaku sangat sedih ketika warga demo karena nisan ahli kuburnya dicabuti. Padahal tujuannya baik. Selain sesuai syariat Islam, kondisi makam menjadi rapi dengan diganti tembok kecil sebagai penanda. “Awalnya saya di demo warga yang nisannya saya cabuti. Tapi mereka malah belakangan mendukung, soalnya makam jadi rapi dan sesuai syariat Islam. Saya bersihkan dan rapikan makam ini jujur semua dari Anggaran Golek Dewe (AGD),” ungkapnya.
Uang yang terkumpul semuanya dipakai untuk membenahi nisan yang sengaja dicabut. Seluruh areal makam di cat dengan warna terang, sehingga jauh dari kesan angker. Sebuah bangunan juga difungsikan sebagai padepokan yang kerap dipakai warga untuk menggelar hajatan atau khataman Qur’an. Suasana makam makin renggang, karena banyak warga desa membantunya ikut membersihkan makam. “Walaupun nanti saya pensiun. Saya akan tetap menjaga makam ini sampai mati,” pungkasnya. (Din/RED)





