
MEDAN, BeritaTKP.com – Video sejumlah siswa SMP nekat menyeberangi pipa air di atas Sungai Deli, Kota Medan, demi bisa lebih cepat sampai ke sekolah, viral di media sosial. Peristiwa itu pun memantik perhatian publik sekaligus mendorong respons dari Wali Kota Medan, Rico Waas, yang berjanji menyiapkan solusi akses penyeberangan yang lebih aman bagi warga.
Dalam video yang beredar, tampak beberapa pelajar laki-laki dan perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah berjalan di atas pipa PDAM yang membentang di atas sungai. Mereka diketahui melintasi jalur tersebut sepulang sekolah karena dianggap sebagai akses tercepat menuju rumah.
Diketahui, lokasi itu sebelumnya memiliki jembatan yang menghubungkan Gang Perbatasan, Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Medan Maimun, dengan wilayah Kecamatan Medan Polonia. Jembatan tersebut dulunya menjadi akses utama penyeberangan warga, termasuk anak-anak sekolah. Namun, jembatan bekas rel kereta api itu kini sudah tidak tersisa lagi.
Salah seorang siswi kelas 7 SMPN 34 Medan bernama Mita mengaku terpaksa melewati jalur tersebut karena dapat memangkas waktu perjalanan menuju sekolah. Ia tinggal di Kecamatan Medan Polonia, sementara sekolahnya berada di Gang Perbatasan.
“Ya, kalau naik motor sekitar 6 menit ke rumah, tapi kalau jalan jauh, harus mutar, dari sini lebih dekat,” ungkap Mita.
Kepala Lingkungan 21 Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Lestari, membenarkan bahwa para pelajar memang sudah sering melintasi pipa tersebut saat pergi maupun pulang sekolah. Menurutnya, bukan hanya anak-anak sekolah, warga sekitar pun kerap melakukan hal serupa karena tidak ada lagi akses penyeberangan yang memadai.
“Ada beberapa pelajar, enggak semuanya, beberapa aja yang nekat untuk melintasi jalan ini,” ujar Lestari.
Ia menambahkan, pihak lingkungan sebenarnya telah beberapa kali mengimbau anak-anak agar tidak melewati jalur tersebut lantaran sangat berbahaya. Bahkan, tanda larangan juga sudah dipasang di lokasi. Namun, para pelajar tetap nekat melintas karena jalur itu dinilai lebih dekat dibanding harus memutar jauh.
“Bahkan sudah dipasang garis kok supaya jangan dilewati, sudah diimbau,” katanya.
Menurut Lestari, di samping pipa tersebut dulunya berdiri jembatan bekas rel kereta api yang menjadi penghubung utama warga Polonia dan Kampung Baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir jembatan itu mengalami kerusakan hingga akhirnya tidak dapat lagi digunakan.
“Harapan masyarakat sini jembatannya dipasang kembali, diperbaiki, karena akses utama warga Polonia dan Kampung Baru,” tandasnya.
Menanggapi viralnya video tersebut, Wali Kota Medan Rico Waas kemudian meninjau lokasi jembatan eks perlintasan kereta api yang roboh akibat banjir besar beberapa waktu lalu, tepatnya di Jalan Adi Sucipto, Gang Damai, Kecamatan Medan Polonia.
Jembatan milik PT KAI yang dibangun pada era kolonial Belanda, sekitar tahun 1887 hingga 1915, diketahui sudah lama tidak difungsikan untuk jalur kereta api. Meski begitu, keberadaannya selama ini menjadi jalur vital bagi mobilitas warga, terutama anak-anak yang berangkat dan pulang sekolah.
Dalam peninjauan itu, Rico Waas menegaskan bahwa Pemerintah Kota Medan tidak akan tinggal diam melihat putusnya akses masyarakat. Karena lahan tersebut merupakan kewenangan PT KAI, Pemko Medan saat ini menyiapkan strategi kolaborasi untuk membangun kembali akses penyeberangan yang lebih aman, nyaman, dan modern.
“Saya meninjau lokasi jembatan di Gang Damai yang sudah roboh sejak 2024. Kami bersama PT KAI akan menyiapkan strategi pembangunan akses penyeberangan yang nyaman bagi masyarakat,” kata Rico.
Ia berharap pembangunan kembali akses tersebut nantinya dapat menyambungkan kembali mobilitas warga antar kecamatan dan kelurahan yang selama ini terhambat. Menurutnya, pemulihan akses ini penting agar aktivitas masyarakat kembali normal dan anak-anak sekolah tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan saat melintas.
“Saya berharap nantinya ini bisa menyambungkan aktivitas masyarakat dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya menjadi lebih dekat. Kita ingin mobilitas warga kembali normal, dan anak-anak sekolah bisa melintas dengan aman,” ujarnya.
Terkait video yang viral, Rico juga mengaku jalur tersebut sebenarnya sudah lama dikenal sebagai jalan pintas warga. Bahkan, ia menyebut dirinya sendiri pernah melewati rute yang sama saat masih sekolah karena dinilai lebih dekat.
“Sudah lama jadi jalan pintas. Dulu saya juga lewat situ karena lebih dekat,” ujar Rico saat diwawancarai wartawan di Balai Kota pada Selasa, 14 April 2026.
Meski demikian, Rico menegaskan bahwa pembangunan jembatan atau akses alternatif tetap harus melalui kajian matang. Pemerintah Kota Medan, kata dia, akan segera berkoordinasi dengan PT KAI untuk mencari solusi terbaik, termasuk kemungkinan pembangunan jembatan baru atau penyediaan jalur lain yang lebih aman namun tetap efisien bagi warga.
“Segera kita koordinasikan, apakah bisa dibangun jembatan atau dicarikan jalur lain yang lebih aman dan tetap efisien,” tambahnya.
Rico juga menyebut bahwa rencana pembangunan tersebut masih mempertimbangkan Detail Engineering Design (DED), terutama apabila akses penyeberangan harus dibangun kembali dari awal.
“Tentu menjadi atensi kita, terlebih jika mau dibangun dari awal kita mesti punya DED-nya dulu,” pungkasnya.(æ/red)