BANYUWANGI, BeritaTKP.Com – Ipuk Fiestiandani selaku Bupati Banyuwangi mendatangi kediaman keluarga korban meninggal dari KMP Yunicee yang tenggelam di Selat Bali. Ipuk menyampaikan rasa turut berduka yang sangat mendalam atas kepergian salah seorang korban KMP Yunicee di Desa Kabat, Kecamatan Kabat.
Korban adalah pegawai penjaga tiket di Pelabuhan Gilimanuk. Saat itu dirinya menumpang kapal KMP Yunicee untuk berangkat bekerja. Namun, saat hampir tiba di dermaga pelabuhan Gilimanuk, nasib malang harus menimpa kapal yang ditumpanginya tenggelam.

“Atas nama pemerintah daerah Banyuwangi, kami mengucapkan turut berduka cita yang mendalam atas musibah ini. Kami berdoa agar korban yang telah berpulang mendapat tempat termulia di sisi Allah SWT dan terima semua amal ibadahnya,” ungkap Ipuk, Rabu (1/7/2021).
Kehadiran Ipuk disambut tangis haru oleh Istiana, yang merupakan ibunda korban. Juga ada Hariyanto, ayah korban. Kepergian putri sulung Hariyanto dan Istiana secara mendadak menjadi pukulan yang teramat sangat berat bagi kedua orang tuanya.
“Dia selesai mengantarkan saya lomba paduan suara PKK. Tak seperti biasanya, dia mencium saya beberapa kali sambil memberi semangat kepada saya,” cerita Istiana kepada Ipuk.
“Ada apa kok tiba-tiba gini?” lanjut Istiana bercerita.
“Tidak apa-apa, Bu. Aku sayang ibu, ayah dan adik-adik. Rawat mereka ya, Bu,” ungkap Istiana menirukan jawaban anak gadisya yang berusia 23 tahun itu.
Selama hidupnya, ANP dikenal sebagai pribadi yang baik. Selain berbakti kepada kedua orangtuanya, ia juga mendedikasikan penghasilannya bekerja untuk membantu adik-adiknya yang masih bersekolah. Beberapa hari sebelumnya, ia sempat mengutarakan keinginannya untuk ikut berkurban pada tahun ini.
“Dia ingin gajinya besok untuk bantu diberikan adiknya dan berkurban tahun ini,” kenang ibunya.
ANP merupakan karyawan yang teladan. Ia sudah bekerja selama 6 tahun sebagai penjaga tiket di Pelabuhan Gilimanuk. Pada hari Selasa malam, ia hendak menuju tempat kerjanya. Saat itu, ia mendapat giliran bekerja malam bersama enam orang kawannya.
Bupati Ipuk terus membesarkan hati keluarga dengan memberikan semangat.
“Yang sabar nggeh, Bu. Insya Allah beliau syahid karena berpulang saat akan berangkat kerja mencari nafkah,” ujar Ipuk.
“Saya yakin anak ibu adalah anak yang sholeha, apalagi tadi beliau berniat untuk kurban saat Idul Adha nanti dari gaji yang didapatkan,” imbuh Ipuk sembari menenangkan ibunda korban.
Ipuk dan keluarga korban lantas melakukan doa bersama, dipimpin mantan aktivis pelajar NU, Ayung Notonegoro. [aes/red]





