Lamongan, BeritaTKP.com – Puluhan anggota pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bersorak ungkapkan penolakan terhadap disahkannya UU Cipta Kerja di depan gedung DPRD Lamongan, pada Senin (10/4/2023) kemarin.
Dengan dikawal oleh puluhan polisi, para anggota PMII Lamongan memberikan beberapa tuntutan yang isinya sebagian besar penolakan terhadap UU Cipta Kerja tersebut. Bahkan, beberapa mahasiswa tersebut sempat bersitegang dengan dua anggota DPRD yang keluar untuk menemui mereka.

Sambil membentangkan spanduk dan poster berisikan tuntutan, mereka menegaskan tidak setuju terhadap pengesahan UU Cipta Kerja yang tidak lama telah disahkan oleh pemerintah pusat. “Kami tegas menolak pengesahan UU Cipta Kerja,” kata korlap aksi PMII Lamongan, Rinaldi.
Sejumlah poster yang dibawa massa pada intinya adalah menolak UU itu. Para mahasiswa menilai isi UU tersebut tidak benar-benar memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi dan merugikan pihak buruh.
Aksi demo ini sengaja mereka gelar pada 10 April 2023 kemarin, lantaran pada hari itu bersamaan agenda pembahasan Raperda inisiatif tahap 1. Mengejutkan, ternyata agenda tersebut banyak anggota dewa termasuk ketua yang absen. “Saat kami intip ternyata kebanyakan anggota dewan tidak hadir dan ketua dewan juga tidak ada,” ungkap Rinaldi.
Ketika suasana memanas karena mahasiswa berang atas absennya beberapa anggota dewan, terjadi adu mulut dengan dua anggota dewan. Itu karena dua wakil rakyat tersebut meminta para mahasiswa untuk menuliskan tuntutannya.
Keduanya juga menyampaikan bahwa Ketua DPRD Lamongan tidak bisa menemui pengunjuk rasa karena ada acara yang tidak bisa ditinggal. “Silakan untuk menuliskan tuntutan, kami akan menampung semua aspirasi masyarakat,” kata Nurfatonah, anggota Komisi D di depan massa.
Pernyataan kedua anggota DPRD itu langsung disambut teriakan pengunjukrasa. Mereka menanyakan alasan Ketua DPRD Lamongan tidak mau menemui mereka dan mengapa banyak anggota dewan absen padahal sedang membahas Raperda inisiatif tahap 1.
Karena tidak ada titik temu, kedua anggota dewan itu akhirnya balik kanan masuk ke gedung DPRD. Para mahasiswa sempat bertahan selama beberapa waktu sebelum kemudian memutuskan untuk menyudahi aksinya karena target mereka bertemu Ketua DPRD belum terwujud. Namun, para mahasiswa tersebut berjanji akan kembali datang untuk menyuarakan aspirasinya. “Kami akan kembali menggelar aksi seperti ini,” tegas Rinaldi. (Din/RED)





