SURABAYA, BeritaTKP.com — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Bubutan, Tembok Dukuh, Surabaya, menjadi sorotan setelah diduga menyebabkan lebih dari 200 siswa dari 12 sekolah mengalami keracunan makanan. Di sisi lain, keberadaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berada di Jalan Demak Madya itu ternyata juga dikeluhkan warga sekitar.
Keluhan warga mencuat setelah sebuah video yang memperlihatkan suasana malam di rumah warga dekat lokasi SPPG viral di media sosial. Dalam video tersebut, terdengar suara aktivitas ompreng MBG pada malam hari yang disebut mengganggu waktu istirahat warga.
Salah satu warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengatakan, aktivitas dapur SPPG berlangsung dalam beberapa sif kerja. Menurutnya, sif pertama dimulai sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB untuk proses memasak awal, termasuk pemotongan bahan makanan.
“Lalu jam 12 malam mulai memasak dan menimbulkan polusi udara, karena ventilasi yang menghadap ke rumah warga. Padahal seharusnya ventilasi atau exhaust itu menghadap ke atas,” ujar warga tersebut, Senin (18/5/2026).
Warga itu menjelaskan, sif kedua berlangsung sekitar pukul 06.00 hingga 10.00 WIB untuk proses pemorsian makanan sebelum dikirim ke sekolah. Setelah itu, aktivitas kembali berlanjut pada sif ketiga sekitar pukul 14.00 hingga 23.00 WIB.
Menurut warga, aktivitas pada sif ketiga kerap menimbulkan suara bising dari ompreng yang datang dan ditangani para pekerja. Suara tersebut bahkan disebut bisa terdengar hingga sekitar pukul 00.30 WIB.
“Datanglah ompreng dan dimulai sif ompreng yang suaranya seperti dilempar-lempar, bisa sampai jam 00.30,” lanjutnya.
Warga mengaku terganggu karena aktivitas tersebut berlangsung di lingkungan padat penduduk. Ia menyebut di sekitar lokasi terdapat lansia, balita, dan bayi yang membutuhkan waktu istirahat pada malam hari.
“Bayangkan di sini ada lansia, ada balita, ada bayi. Apakah tidak memikirkan hal tersebut, omprengnya mengganggu, warga juga butuh istirahat,” keluhnya.
Menurut warga, keluhan tersebut sudah pernah disampaikan kepada RT dan pihak kelurahan. Pihak RT disebut sudah memberikan teguran kepada pengelola SPPG, namun warga merasa teguran itu tidak dihiraukan.
Warga kemudian diarahkan untuk menyampaikan keluhan ke Kelurahan Tembok Dukuh. Namun, laporan tersebut disebut hanya dicatat dan dijanjikan akan ditindaklanjuti.
“Sampai saat ini tidak dihubungi, bahkan pesan WhatsApp juga belum dijawab,” katanya.
Karena laporan melalui RT dan kelurahan dinilai belum membuahkan hasil, warga akhirnya menyampaikan teguran langsung kepada pihak SPPG Bubutan Tembok Dukuh. Teguran itu berkaitan dengan suara ompreng, aktivitas karyawan pada malam hari, ventilasi asap makanan yang mengarah ke rumah warga, serta persoalan parkir kendaraan yang dinilai tidak tertata.
Warga juga menyebut sempat menegur pihak SPPG karena memutar musik dangdut saat jam memasak. Setelah ditegur, musik tersebut berhenti. Namun, suara aktivitas pekerja pada malam hari disebut masih terdengar.
“Sempat mereka menyetel musik dangdut saat jam masak, langsung saya tegur keras. Sempat berhasil, musik dangdut berhenti. Namun suara karyawan berisik di malam hari juga terdengar,” ujarnya.
Selain itu, warga juga menyoroti area parkir yang dinilai tidak memadai karena dapur tersebut berada di rumah sewaan dengan halaman terbatas. Kendaraan disebut kerap parkir di kanan dan kiri jalan kampung.
“Saya juga sempat menegur parkiran yang berserakan di kanan kiri jalan kampung, tapi SPPG merasa sudah diizinkan oleh RT dan kelurahan,” jelasnya.
Setelah mengetahui SPPG Bubutan Tembok Dukuh juga dikaitkan dengan kasus keracunan massal siswa, warga berharap dapur tersebut ditutup atau dipindahkan ke lokasi yang lebih layak dan tidak berada di kawasan padat penduduk.
Menurut warga, SPPG tersebut sudah tidak layak dijadikan tempat produksi menu MBG. Ia juga mengaku terkejut setelah mengetahui dapur itu menangani makanan untuk banyak sekolah.
“Pasti saya sebagai warga yang terdampak ingin SPPG tersebut ditutup. Kalau bisa dipindahkan, jangan membangun SPPG di tempat yang padat penduduk,” katanya.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional SPPG Bubutan Tembok Dukuh, terutama setelah munculnya kasus keracunan siswa dan keluhan warga sekitar.
“Harapan saya semoga SPPG yang meracuni dan merugikan banyak warga di Surabaya ini segera ditutup dan diberikan sanksi yang sepantasnya,” pungkasnya.(æ/red)





