Sampang, BeritaTKP.com – Pelayanan pembelian bahan bakar minyak atau BBM di SPBU 54.692.06 Tamba’an, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, menjadi sorotan. Sejumlah pengendara mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar subsidi karena disebut habis. Namun, pada saat bersamaan, mereka melihat puluhan jeriken tetap diisi BBM oleh petugas SPBU.
Keluhan itu salah satunya disampaikan oleh Amir, seorang sopir pikap yang hampir setiap hari mengisi BBM di SPBU tersebut. Ia mengaku kerap tidak kebagian solar subsidi meski sudah ikut mengantre.
Menurut Amir, pada Minggu, 7 Juni 2026, petugas SPBU menyampaikan bahwa stok solar telah habis. Namun, ia justru melihat pengisian BBM ke puluhan jeriken masih berlangsung di lokasi.
“Tadi katanya solarnya habis, tapi mereka mengisi solar ke puluhan jeriken,” kata Amir kepada detikJatim.
Saat mempertanyakan hal tersebut kepada petugas, Amir mengaku diberi penjelasan bahwa BBM yang diisi ke dalam jeriken bukan solar subsidi, melainkan Dexlite dengan harga Rp24 ribu per liter.
“Saat saya tanya yang diisikan ke jeriken itu, petugasnya mengatakan jeriken itu diisi Dexlite yang harganya Rp24 ribu per liter,” ujar Amir menirukan penjelasan petugas.
Meski begitu, Amir mengaku masih merasa ada kejanggalan. Ia mengatakan tidak melihat adanya papan pengumuman bahwa solar sedang habis. Selain itu, ia juga mempertanyakan lokasi pengisian BBM yang menurutnya berada di dispenser bertuliskan solar.
“Saya nggak tahu yang diisi itu memang Dexlite atau solar. Soalnya di blok itu hanya tertera tulisan solar. Padahal kalau blok yang tulisannya Dexlite Pertamina ada di sebelahnya, itu kan aneh,” ungkapnya.
Amir juga mengaku melihat sejumlah jeriken yang sudah terisi kemudian dipindahkan ke area penyimpanan di sisi timur SPBU. Menurutnya, di lokasi tersebut terdapat banyak tumpukan jeriken.
“Setelah diisi solar itu kemudian dibawa ke sebelah timur pom. Saya lihat di sana ada banyak tumpukan jeriken,” beber Amir.
Menanggapi keluhan tersebut, petugas SPBU membenarkan adanya pengisian BBM ke dalam jeriken. Namun, petugas yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa BBM yang diisi adalah Dexlite, bukan solar subsidi.
“Kalau solar di kran pompa barat. Pompa yang sebelah timur ini isinya Dexlite, harganya Rp24 ribu,” kata petugas SPBU tersebut.
Belakangan diketahui, pembeli BBM dalam jumlah besar menggunakan jeriken itu mengaku sebagai nelayan. Pria bernama Samsul tersebut membantah membeli solar subsidi. Ia menyebut jeriken miliknya diisi Dexlite untuk kebutuhan kapal.
“Tidak, jeriken itu punya saya buat solar kapal nelayan saya,” kata Samsul, Senin, 8 Juni 2026.
Samsul kembali menegaskan bahwa BBM yang dibelinya bukan solar subsidi, melainkan Dexlite. Ia mengaku memiliki dua kapal yang akan digunakan melaut dalam waktu lama karena saat ini sedang musim ikan.
“Itu bukan solar kok katanya petugas SPBU. Saya beli dengan harga Rp24 ribu,” ucap Samsul.
Menurut Samsul, pembelian dalam jumlah besar terpaksa dilakukan karena kebutuhan operasional kapal yang cukup tinggi. Ia juga mengaku memilih membeli sekaligus agar lebih menghemat biaya transportasi.
“Ya terpaksa beli Dexlite, soalnya dua kapal saya mau andun atau berlayar keluar wilayah selama berhari-hari karena sedang musim ikan,” ujarnya.
Samsul juga tidak membantah bahwa jeriken yang telah terisi sempat ditumpuk di area gudang sebelah timur SPBU. Namun, ia menjelaskan bahwa jeriken itu hanya ditaruh sementara karena kendaraan pikap yang akan mengangkutnya belum datang.
“Iya memang ditaruh di sana dulu, soalnya pikap yang angkut belum datang,” tandasnya.
Kasus ini kemudian menjadi perbincangan karena adanya keluhan pengendara yang merasa kesulitan mendapatkan solar subsidi, sementara pengisian BBM ke jeriken tetap berlangsung. Di sisi lain, pihak SPBU dan pembeli jeriken menegaskan bahwa BBM yang dibeli bukan solar subsidi, melainkan Dexlite.(æ/red)





