
Kota Malang, BeritaTKP.com – Jembatan kaca yang mengbubungkan dua kampung Warna Warni Jodipan dan Kampung Tridi kabarnya akan segera diperbaiki. Perbaikan ini dilakukan setelah sempat sebelumnya dilaporkan ada keretakan pada salah satu titik ujung jembatan.
Kepastian akan segeranya jembatan itu diperbaiki didapatkan dalam rapat koordinasi yang digelar di Balai Kota Malang, pada Selasa (31/10/2023) kemarin. Rapat tersebut dihadiri oleh beberapa pihak, yakni Disporapar Kota Malang, DPUPRPKP, perangkat wilayah setempat dan perwakilan masyarakat.
Ketua RW 12 Kampung Tridi, Kelurahan Kesatrian Adnan menyampaikan jika, perbaikan tersebut akan dilakukan dalam pekan ini, di mana dari dinas terkait yakni DPRPRPKP Kota Malang, sudah siap siap untuk melaksanakan perbaikan tersebut. “Kurang lebih minggu-minggu ini, satu sampai dua hari lah, karena masih koordinasi dengan pimpinannya tapi sudah deal. Tadi sudah siap dilaksanakan,” ujar Adnan usai rakor.
Sedangkan untuk saat ini, dengan kondisi seperti itu jembatan tersebut telah ditutup untuk sementara waktu, untuk memastikan semua pengunjung tetap aman. Meskipun sebenarnya jembatan kaca itu menjadi atraksi dan magnet bagi wisatawan.
“Jadi kalau ada wisatawan di Kampung Tridi ya kita arahkan untuk foto ditulisan itu aja. Karena jembatan untuk sementara tidak bisa digunakan. Begitupun juga kalau ada yang prewedding,” imbuh Adnan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi mengatakan, perbaikan jembatan itu akan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), tepatnya dari pos anggaran insidentil.
“Dari DPUPRPKP melalui anggaran insidentil. Di dalam APBD itu ada rekening belanja barang untuk diserahkan pada masyarakat, jadi tetap aturannya ada di dalam Permendagri 84 tahun 2022 tentang penyusunan APBD tahun anggaran 2023. Jadi tidak ada masalah. Nominalnya nanti di Rencana Anggaran Biaya (RAB) kan sama DPUPRPKP, tapi yang jelas tidak ada permasalahan,” ujar Baihaqi.
Selain itu, kerusakan bagian ujung jembatan kaca tersebut juga dimonitor oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). “Jembatan kaca ini memang menjadi atensi karena memang setelah kejadian di Banyumas jangan sampai terjadi di Kota Malang. Tetapi ini kasusnya beda, secara kontruksi aman, tetapi butuh perawatan. Yang retak itu adalah retak ringan karena sealant itu lepas, tapi untuk jangka pendeknya perlu dilakukan penanganan,” katanya.
Perbaikan itu menjadi prioritas, meskipun dirinya belum memastikan apakah jembatan itu statusnya sudah diserahkan sebagai aset Kota Malang atau belum. Sebab menurut Baihaqi, Yang terpenting saat ini tetap melakukan percepatan dalam penanganan masalah yang ada. Karena hal itu diyakini akan berimbas pada soal psikologis kunjungan wisata. “Karena kita tidak membicarakan tentang status tapi lebih ke arah penanganan, karena yang kita pikirkan adalah jangka panjang terkait keselamatan jiwa. Jadi masalah status ini segera juga ditindaklanjuti,” terang Baigaqi.
Ditambah lagi, jembatan tersebut mampu menarik para wisatawan baik lokasi maupun mancanegara. “Di sana yang banyak datang juga dari mancanegara, kalau tidak segera kita lakukan ini akan berdampak pada tingkat kunjungan wisata yang selama ini sudah hidup, sudah menggeliat. Karena dampak ekonominya luar biasa dan ini yang perlu harus kita jaga, dampak psikologis terkait dengan kunjungan wisata,” pungkas Baihaqi. (Din/RED)





