Siswa SD Megale Bojonegoro yang jadi korban merger Diknas setempat saat belajar di luar kelas.

Bojonegoro, BeritaTKP.com – Dua sekolah dasar (SD) negeri yang ada di Kabupaten Bojonegoro dikabarkan akan dimerger atau digabungkan. Dua sekolah dasar tersebut adalah SD Negeri 1 Megale dan SD Negeri 2 Megale. Akibat proses merger tersebut, 50 siswa harus terlantar belajar di teras kelas tanpa bimbingan guru.

Salah satu wali murid bernama Vinda menolak tegas dengan adanya merger tersebut. Sebeb menurutnya, gedug SDN 1 Megale lebih layak. “Kami menolak untuk dimerger dan pindah ke SDN 2 Megale yang kondisinya malah tidak layak. Sekolah SDN 1 Megale gedungnya baru dibangun tiga bulan lalu, kok malah muridnya dipindah,” kata Vinda, Kamis (20/7/2023) kemarin.

Vinda menilai bahwa kebijakan Pendidikan Nasional (Diknas) tersebut dilakukan tanpa proses perencanaan yang matang. Tak hanya itu kebijakan merger juga terkesan dipaksakan. Merger sendiri merupakan proses menyatukan dua atau lebih sekolah guna mencapai pengelolaan yang lebih efektif dan efisien serta meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan. Wali murid lainnya yang turut menolak adanya merger sekolah ini datang bersama-sama menemui pihak Diknas dan anggota dewan namun belum ada solusi lebih lanjut.

Sebaliknya, murid-murid kini belajar tanpa guru. Ini karena guru SDN Megale 1 telah ditarik ke SDN 2 Megale. “Kami sudah dua kali ke Diknas dan DPRD tapi hingga saat ini tidak ada tindak lanjut. Malah anak kami belajar tanpa guru di sekolahnya,” terang Vinda.

Penolakan wali murid ini yang membuat proses merger semakin lama. Bahkan, pihak pemerintahan desa mengaku tak berdaya dan hanya bisa mengikuti perintah Diknas. “La niku kulo mboten paham ini. Intinya sampun dimerger. Kelas sudah kosong, guru sudah pindah di SD 2 semua. (Lha itu saya tidak paham. Intinya sudah dimerger. Kelas sudah kosong, guru dipindah di SD 2),” ujar Kades Suraji. (Din/RED)