Gresik, BeritaTKP.com – Satreskrim Polres Gresik telah berhasil menggagalkan penyelundupan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal yang hendak menuju Hongkong dan Singapura.
Sebanyak tujuh perempuan calon tenaga kerja Indonesia (TKI) yang hendak diberangkatkan untuk bekerja di luar negeri diamankan dari sebuah rumah yang berada di wilayah Kecamatan Duduksampeyan Gresik.

Satreskrim Polres Gresik Iptu Wahyu Rizki Saputro menyampaikan terdapat tujuh perempuan yang diamankan di sebuah bangunan rumah dua lantai di Desa Tumapel Kecamatan Duduksampeyan. Semuanya berasal dari luar Kabupaten Gresik.
Identitas tujuh orang tersebut yaitu Desi Putri Susilawati ,37, warga asal Perumnas Indarung Desa Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, Marlince Magediala ,34, warga asal Maraga Ngudu, Desa Bera Dolu, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT, Andriana Baok ,35, warga asal Dusun Debunaruk, Desa Railor, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT. Kemudian Megawati Haubenu ,30, warga asal Dusun Toanas, Desa Toana, Kecamatan Toana, Kabupaten Timur Tengah Selatan, Prov NTT, dan Saniah ,49, warga asal Dusun Jatisari, Desa Jatisari, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Provinsi Jatim.
Lalu dua orang lagi tidak membawa identitas KTP, yaitu Duma Johana ,26, Desa Lumban Siagian, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samusir, Provinsi Sumatera Utara, dan Saroyah ,48, warga asal Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah.
“Mereka akan diberangkatkan oleh pihak PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) yang mengatasnamakan PT. Satria Parangtritis beralamat di Jalan Raya Jati Makmur Celepuk Kota Bekasi Provinsi Jawa Barat,” beber Iptu Wahyu.
Pemilik rumah diketahui bernama Arifin ,50, warga asal Desa Glanggang, Kecamatan Duduksampeyan. Rumah itu dikontrak oleh seorang pria bernama Roni warga Jember.
Polisi langsung berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik. Diketahui bahwa pihak PT Satria Parangtritis merupakan perusahaan yang legal bergerak dibidang PJTKI.
“Sehubungan dengan data tujuh orang tersebut merupakan bukan warga Kabupaten Gresik maka dilakukan koordinasi dengan pihak BP2MI ( Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) Pusat. Diperoleh hasil bahwa data dari tujuh orang tersebut tidak ada atau tidak terdaftar, maka bisa disimpulkan mereka merupakan calon PMI ilegal,” ungkap Wahyu.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, tujuh orang tersebut dalam proses rencana pemberangkatan sebagai PMI yang akan dikerjakan sebagai IRT di negara Singapura dan Hongkong.
“Setiap orangnya dimintai dana sebesar Rp 36 juta oleh pihak penyalur yang mengatasnamakan PT Satria Parangtritis,” ucapnya.
Saat ini, tujuh orang tersebut diamankan di Polres Gresik dan dalam proses penyelidikan serta penyidikan lebih lanjut oleh Sat Reskrim Polres Gresik.
(k/red)





