SURABAYA, BeritaTKP.com — Satpol PP Kota Surabaya memberikan klarifikasi terkait video viral yang memperlihatkan seorang anggotanya diduga menghalangi ambulans yang sedang membawa jenazah menuju Sampang, Madura.
Satpol PP menyebut kejadian tersebut terjadi karena miskomunikasi, bukan karena adanya niat untuk menghentikan atau mengganggu perjalanan ambulans.
Plt Kepala Satpol PP Surabaya, Irna Pawanti, menjelaskan petugas bernama Dimas awalnya melihat kedua spion ambulans dalam kondisi tertutup. Petugas tersebut kemudian berusaha mendekati ambulans untuk menyampaikan kondisi tersebut kepada pengemudi.
“Dia melihat bahwa spion ambulans itu dua-duanya nutup. Jadi sebenarnya dia berada di depan ambulans awalnya,” ujar Irna, Kamis (24/9/2026).
Sirene Membuat Komunikasi Tak Terdengar
Menurut Irna, Dimas tidak bermaksud menghentikan ambulans. Namun, suara sirene yang cukup keras membuat komunikasi antara petugas dan pengemudi tidak berjalan dengan baik.
Karena tidak mendapat respons, petugas kemudian mengetuk kaca ambulans untuk menyampaikan agar spion dibuka.
Dalam komunikasi tersebut, Dimas juga menanyakan mengenai muatan ambulans karena belum mengetahui bahwa kendaraan tersebut sedang membawa jenazah.
Setelah petugas mengetahui kondisi sebenarnya di dalam ambulans, Dimas disebut langsung mempersilakan kendaraan tersebut melanjutkan perjalanan.
“Setelah tahu, berarti ya sudah, jenazah. Ya sudah silakan, selesai sudah. Begitu saja. Tidak ada niat-niat yang lain,” kata Irna.
Dimas Dipanggil untuk Klarifikasi
Satpol PP Surabaya telah memanggil Dimas untuk meminta penjelasan mengenai kejadian tersebut.
Dimas diketahui sehari-hari bertugas di Kecamatan Bulak. Saat peristiwa terjadi, ia disebut sedang dalam perjalanan dari rumah menuju kantor untuk menjalankan tugas malam.
Irna menegaskan pihaknya tidak menemukan niat dari personel tersebut untuk mengganggu ataupun sengaja menghalangi ambulans.
Karena kejadian dinilai sebagai miskomunikasi, Satpol PP Surabaya menyatakan tidak memberikan sanksi kepada Dimas.
Akan Dimediasi dengan Komunitas Ambulans
Untuk mencegah persoalan berkembang lebih jauh, pihak Kecamatan Bulak akan memediasi Dimas dengan komunitas ambulans BPJS Watch Surabaya.
Irna berharap kedua pihak dapat menyelesaikan persoalan tersebut melalui komunikasi dan klarifikasi.
“Disampaikan kesalahpahaman ini. Ini hanya kesalahpahaman saja, jangan sampai meruncing,” ujarnya.
Versi Pengemudi Ambulans
Sebelumnya, video kejadian tersebut beredar di media sosial dan memicu perhatian publik.
Peristiwa disebut terjadi pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 19.05 WIB di Jalan Taman Putro Agung Kulon, Surabaya, ketika ambulans BPJS Watch sedang menuju Sampang, Madura.
Pengemudi ambulans, Jeki, mengatakan kendaraan yang dikemudikannya saat itu membawa jenazah dari RS SMS menuju Dusun Panobun Timur, Kecamatan Ketapang, Sampang.
Menurut Jeki, seorang anggota Satpol PP sempat mengikuti ambulans dan mengetuk bagian kendaraan serta mempertanyakan penggunaan sirene dan mengenai orang yang berada di dalam ambulans.
Jeki kemudian menunjukkan kondisi di dalam ambulans dan menjelaskan bahwa kendaraan tersebut sedang menjalankan pengantaran jenazah.
Ia menyebut di dalam ambulans terdapat jenazah, tiga orang dewasa, serta seorang anak dari pihak keluarga.
Kedua Pihak Diminta Selesaikan Kesalahpahaman
Dari dua versi tersebut, Satpol PP Surabaya menyatakan persoalan bermula dari komunikasi yang tidak tersampaikan dengan baik.
Satpol PP menyebut anggotanya bermaksud mengingatkan mengenai kondisi spion ambulans, sedangkan pihak pengemudi menilai tindakan petugas sebagai bentuk penghalangan ketika sedang menjalankan tugas pengantaran jenazah.
Kedua pihak kini diarahkan untuk menyelesaikan persoalan melalui klarifikasi dan mediasi agar kejadian tersebut tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.(æ/red)





