Sleman, BeritaTKP.com — Sebuah rumah di kawasan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami rentetan kebakaran yang belum diketahui secara pasti penyebabnya. Sejumlah perabot dan barang di dalam rumah terbakar setelah api disebut muncul secara tiba-tiba di berbagai titik.

Pemilik rumah, Mutfiana, menceritakan kejadian pertama terjadi pada Sabtu dini hari, 23 Mei 2026. Saat itu, sebuah kain di dalam kamar tiba-tiba terbakar. Peristiwa tersebut kemudian terus berulang hingga membuat keluarga merasa cemas.

“Pertama kejadiannya Sabtu dini hari. Waktu itu ada kain di rumah yang tiba-tiba terbakar. Padahal waktu itu tidak ada yang mainan korek api ataupun menyalakan kompor. Apinya lumayan besar,” tutur Mutfiana atau Fia.

Fia menjelaskan, rumah tersebut selain digunakan sebagai tempat tinggal juga menjadi lokasi usaha pemotongan ayam broiler. Selama sekitar 10 tahun tinggal di rumah itu, ia mengaku baru kali ini mengalami kejadian aneh berupa munculnya api secara berulang.

Menurut Fia, pada Sabtu, 23 Mei 2026, kebakaran terjadi hingga 11 kali. Api terbesar muncul pada Sabtu sore sekitar pukul 14.30 WIB, ketika sofa di ruang tamu tiba-tiba terbakar. Api sempat menjalar ke bagian atas rumah, namun berhasil dipadamkan.

Hingga Kamis, 28 Mei 2026, Fia menyebut total sudah terjadi 39 kali kebakaran di 34 titik berbeda di rumahnya.

Setelah kejadian berulang tersebut, Tim Gegana Satbrimob Polda DIY mendatangi lokasi pada Minggu, 24 Mei 2026. Dari hasil pengecekan awal, tim menduga kebakaran berkaitan dengan kemungkinan kebocoran gas metana yang berasal dari septic tank.

“Sama tim Gegana disarankan untuk menguras septic tank dan mengganti pipa-pipa. Saat itu langsung kami lakukan. Ada tiga septic tank di rumah kami. Satu untuk rumah depan, satu untuk rumah belakang, dan satu lagi untuk limbah pembuangan pemotongan ayam,” ungkap Fia.

Fia mengatakan pihak keluarga langsung mengikuti saran tersebut dengan menguras septic tank dan mengganti sejumlah pipa. Namun, setelah langkah itu dilakukan, api masih beberapa kali muncul dan membakar barang-barang di rumah.

“Hingga Kamis ini sudah kebakaran sebanyak 39 kali di 34 titik berbeda. Barang yang terbakar macam-macam, ada furnitur, almari, pakaian, tikar, dan barang-barang mudah terbakar lainnya. Anehnya yang terbakar itu bagian atasnya dulu,” urai Fia.

Menurutnya, kebakaran terjadi pada waktu yang tidak menentu, mulai pagi, siang, sore, hingga malam hari. Namun, api disebut paling sering muncul pada malam hari. Karena itu, keluarga kini bergantian berjaga agar jika ada barang yang terbakar bisa segera dipadamkan.

“Kebakarannya kadang pagi, siang, sore, tapi paling sering malam hari. Pas kebakar tidak ada suara ledakan. Tidak ada percikan api, tahu-tahu barang terbakar saja. Makanya kami gantian jaga, biar kalau ada barang yang terbakar bisa langsung kami padamkan,” sambungnya.

Demi keselamatan, Fia sementara mengungsikan keluarganya ke ruko yang berada di sebelah rumah. Ia juga masih terus berkomunikasi dengan Tim Gegana terkait kondisi rumahnya.

“Kalau kata Tim Gegana, kebakaran masih terjadi karena menunggu habisnya sisa-sisa gas metana. Hilangnya gas metana katanya bisa dalam hitungan minggu bahkan bulan,” tutur Fia.

Setelah kabar kebakaran berulang itu menyebar, rumah Fia banyak didatangi warga. Bahkan, sejumlah orang yang mengaku sebagai dukun atau paranormal juga datang ke lokasi.

“Kalau dukun yang datang banyak. Mereka bilang penyebabnya inilah, itulah. Ya saya dengarkan saja. Malam kapan itu malah ada rombongan dukun yang datang, malah kayak wisata. Ada juga yang katanya menarik pusaka,” terang Fia.

Fia berharap rentetan kebakaran yang terjadi di rumahnya segera berhenti. Ia mengaku keluarganya lelah karena harus terus berjaga dan merasa khawatir setiap saat.

“Harapan saya dan keluarga, ini bisa segera berakhir. Capek kalau begini terus keadaannya,” tutup Fia.

Peristiwa ini masih menjadi perhatian karena api muncul berulang di banyak titik tanpa penyebab yang langsung terlihat. Warga diimbau tetap berhati-hati, menghindari kerumunan yang dapat mengganggu penanganan, serta menyerahkan pemeriksaan kepada pihak berwenang agar penyebabnya dapat dipastikan secara jelas.(æ/red)