Mojokerto, BeritaTKP.com – Menelisik kembali kronologi pembunuhan Aura Enjelie, siswi SMPN 1 Kemlagi, Mojokerto. Polisi saat ini menggelar konstruksi atau reka adegan sebanyak 36 kali yang diperagakan dua tersangka berinisial AD dan AB.

Proses reka adegan tidak digelar di lokasi kejadian karena mempertimbangkan keamanan kedua pelaku. Rekonstruksi dilakukan di halaman Mapolresta Mojokerto. “Ada 36 adegan yang diperagakan. Pelaku mengeksekusi korban di adegan ketiga,” kata Kasat Reskrim Polresta Mojokerto, AKP Bambang Tri, Senin (19/6/2023).

Kesimpulan reka adegan yang diperagakan oleh kedua pelaku, peristiwa bermula ketika tersangka AB menghubungi korban Aura untuk datang ke belakang rumahnya. Selagi menunggu korban datang, AB menunduk di semak-semak.

Setelah korban datang, AB menyergap dan langsung mencekik leher korban hingga terjatuh dari motor. Korban dicekik oleh AB selama 30 menit hingga akhirnya korban meregang nyawa.  Selanjutnya, AB membawa jenazah korban ke rumah menggunakan sepeda motor.

Selagi AB menyembunyikan jasad korban di kolong tempat tidur, ia kemudian menghubungi AD untuk datang ke rumahnya, sekaligus memberi tahu sasaran begal sudah meninggal.

“Rencana mereka diawali niat membegal, melakukan pencurian yang diajak oleh AD kepada AB. Kemudian AB mempunyai dendam kepada korban, akhirnya si korban yang diajukan menjadi korban pembegalan,” ujar Bambang.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, tersangka AB membunuh korban dilandasi oleh rasa dendam karena korban menagih iuran tersangka AB yang sudah menunggak hingga Rp40 ribu. AB yang saat itu tengah tidur berakhir terkejut, hingga membuatnya dendam.

Sementara reka adegan yang diperagakan AD menunjukkan bahwa AD memperkosa jenazah korban sebanyak dua kali saat ditinggal AB mencari karung dan tali. AB sempat menanyakan perbuatan bejat AD, namun hanya dibalas senyuman.

Keduanya kemudian membungkus jenazah korban dengan karung dan tali yang dibeli AB, lalu membuang jenazah korban di sungai bawah rel kereta api  di Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Mirisnya, usai membunuh, keduanya sempat mampir ke warung kopi dan kembali ke rumah seolah tak terjadi apa-apa. “Kita menggelar rekonstruksi agar terang benderang antara keterangan pelaku dan fakta-fakta yang diperbuat pelaku sehingga terjadi kesesuaian. Itu membuat penyidik mengungkap suatu perkara,” kata Bambang. (Din/RED)