Blitar, BeritaTKP.com – Sejumlah warga di Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, tiba-tiba memblokade jalan desa yang dijadikan sebagai akses utama menuju lokasi tambang pasir ilegal. Jalan desa yang diblokade sepanjang sekitar 2 km di Dusun Rejokaton, tepatnya di RT 3/RW6 dan RT 3-4/RW 7.

Aksi tersebut dilakukan sebab jalan di desanya hancur, serta polusi debunya mengakibatkan warga sakit batuk dan sesak nafas. Selain itu, tidak adanya tanggungjawab dari pemilik tambang pasir sejak setahun terakhir. “Jalan desa rusak tidak mau memperbaiki, warga juga terganggu dengan aktivitas truk yang melintas setiap harinya,” ujar perwakilan warga, Agus Ansori, Minggu (8/10/2023) siang.

Agus menjelaskan kerusakan jalan desa ini diakibatkan tonase truk yang melintasi, seharusnya tidak boleh melewati jalan desanya. “Dalam sehari 24 jam, bisa mencapai 200-300 truk yang melintas. Warga sudah menyampaikan ke desa minta diperbaiki, tapi desa tidak mampu memperbaiki. Sementara pihak pemilik tambang, sudah berulang kali diajak musyawarah tidak menanggapi,” jelasnya.

Warga yang kesal akhirnya membuat portal dari bambu, memasangnya di ujung jalan desa menutup hampir seluruh badan jalan yang aspalnya terlihat rusak berat. Serta memasang banner dengan tulisan “Nafas dan Hidup Kami Penuh Dengan Debu”, serta jalan ditutup mulai 8 Oktober 2023.

Aksi warga ini sudah diketahui oleh pihak Desa Rejoagung, karena memang sudah tidak ada jalan musyawarah lagi. Antara warga dengan pemilik tambang, penambangan pasir ini sudah berlangsung bertahun-tahun sejak sekitar 2017 lalu dan sepengetahuan warga ilegal.

Agus mengaku kalau pemilik tambang yang sebelumnya, masih memberikan kompensasi untuk setiap rumah sebagai uang kesehatan sebesar Rp 50.000 per rumah. “Termasuk untuk desa juga ada walaupun jumlahnya kecil dan mau membenahi jalan, tapi sejak setahun terakhir ganti pemilik tambang tidak ada lagi uang kompensasi untuk desa maupun warga dan jalan dibiarkan rusak,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, warga sepakat akan terus menutup jalan desa tersebut sampai diperbaiki dan ada tanggungjawab terhadap dampak aktivitas truk tambang pasir tersebut. “Kalau jalan tidak diperbaiki dan tidak ada kompensasi untuk warga yang terdampak, jalan akan terus di tutup oleh warga,” imbuhnya.

Saat penutupan jalan berlangsung, diketahui tidak ada satu pun truk pengangkut pasir yang berani melintasi jalan, karena ratusan warga bersiaga akan menghentikan truk pengangkut pasir yang lewat. (Din/RED)