Lombok Barat, BeritaTKP.com – Perang-perangan menggunakan senapan mainan dengan peluru plastik nyaris memicu konflik di Desa Banyumulek dan Desa Lelede, Lombok Barat (Lobar), Minggu (14/4) lalu. Untungnya petugas patroli Polsek Kediri berhasil mencegah keributan yang melibatkan anak-anak dan sejumlah pemuda itu.
“Saat itu kami menemukan kerumunan anak-anak dan pemuda yang sedang bermain senapan mainan menggunakan peluru plastik. Tepatnya di Jalan Wisata Banyumulek depan SMPN 2 Kediri,” kata Kapolres Lobar AKBP Bagus Nyoman Gede Junaedi melalui Kapolsek Kediri Iptu Dina Rizkiana, Senin (15/4).
Perang-perangan menggunakan senapan mainan sudah menjadi kebiasaan anak-anak di tempat itu pasca Lebaran Idul Fitri. Namun hal ini nyaris menimbulkan keributan di kalangan anak-anak dan para remaja. Dina memastikan situasi saat ini dalam keadaan kondusif. Tidak ada gejolak atau keributan yang terjadi lebih lanjut.
“Anggota kami di Polsek Kediri sudah mengimbau anak-anak dan pemuda di desa tersebut untuk kembali ke rumah masing-masing,” ucap Dina.
Perwira Polres Lombok Barat itu juga menegaskan jika anak-anak dan para pemuda di desa tersebut sudah diminta tidak lagi melakukan kegiatan yang dapat mengganggu kamtibmas.
Mengingat aksi mereka kerap menyebabkan kemacetan di jalan raya. Polsek Kediri pun sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk mencegah terjadinya perang senapan mainan tersebut. Petugas tetap disiagakan melakukan patroli dan monitoring agar hal serupa bisa dicegah.
“Tentunya upaya-upaya mencegah gangguan kamtibmas melalui cara preventif ini akan terus kami laksanakan secara berkelanjutan. Apabila menemukan adanya gangguan, bisa melalui nomor pelayanan 110,” imbaunya.
Sementara itu, dari keterangan salah satu warga, perang senapan mainan ini seolah menjadi tradisi di wilayah Banyumulek dan Lelede.
“Biasanya dilakukan oleh anak-anak. Tetapi sekarang para pemudanya juga ikut,” tutur Aprian, salah satu warga.
Ini yang kemudian rentan menimbulkan kesalahpahaman sehingga bisa menyebabkan adanya ketegangan hingga bisa memicu konflik antarwarga. (æ/RED)





