PT Perusahaan Gas Negara (PGN) mengakui jaringan pipa gas di Kompleks Grand Polonia, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, yang menjadi lokasi ledakan dahsyat hingga menewaskan tiga orang merupakan bagian dari jaringan milik perusahaan.

MEDAN, BeritaTKP.com – PT Perusahaan Gas Negara (PGN) akhirnya angkat bicara dan mengakui bahwa jaringan pipa gas di Kompleks Grand Polonia, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, yang menjadi lokasi ledakan maut hingga menewaskan tiga orang, merupakan bagian dari infrastruktur milik perusahaan mereka.

General Manager Sales and Operation Region (SOR) I PGN, Andi Sangga Prasetia, menyatakan bahwa jaringan tersebut memang difungsikan untuk melayani kebutuhan gas rumah tangga di kompleks perumahan tersebut. Sebagai langkah tanggap darurat dan pengamanan, pihak PGN langsung menutup aliran gas serta menghentikan sementara distribusi ke rumah-rumah di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).

Tanggapan Soal Perbedaan Hasil Temuan Menanggapi adanya perbedaan temuan di lapangan antara pihak kepolisian dan PGN pada awal penanganan, Andi menjelaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh faktor perbedaan waktu dan parameter pengukuran.

PGN melakukan pengecekan menggunakan alat laser mini metana pada Senin malam (20/7/2026) sekitar pukul 21.30 WIB. Sementara itu, pihak kepolisian melakukan asesmen awal sesaat setelah kejadian pada sore hari.

“Mungkin karena perbedaan-perbedaan parameter itu tadi yang menyebabkan adanya perbedaan dalam hasil pengukuran,” ujar Andi di lokasi kejadian, Selasa (21/7/2026).

Guna menghindari simpang siur dan asumsi berkepanjangan di tengah masyarakat, PGN memastikan akan membuka ruang kolaborasi penuh serta bekerja sama dengan kepolisian, TNI, dan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) untuk mengusut tuntas insiden ini.

Hasil Asesmen Laboratorium Forensik Di sisi lain, Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Jean Calvijn Simanjuntak bersama Kasubbid Fisika dan Komputer (Fiskom) Bidang Labfor Polda Sumut AKBP Roy Tenno Siburian telah memaparkan hasil asesmen awal. Berdasarkan pola kerusakan fisik, tekanan masif yang menghancurkan struktur bangunan diduga kuat bersumber dari dalam bangunan, tepatnya di area dapur.

Tim Labfor menemukan adanya kompor tanam, terminal gas, serta konsentrasi gas sekitar 10 persen Lower Explosive Limit (LEL) di area dapur yang berpotensi memicu ledakan dahsyat. Hingga kini, tim gabungan masih terus mendalami barang bukti dan memeriksa keterangan saksi untuk merangkum investigasi secara utuh.(æ/red)