Mojokerto, BeritaTKP.com – Sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berganti Medan. Dahulu, Raden Ajeng Kartini berdiri Melawan Ketidakadilan dengan Pena dan Pemikiran. Hari ini, semangat itu Hidup kembali—Menjelma dalam Keberanian seorang Advokat yang memilih berdiri di Garis Terdepan, menghadapi Arus, dan Bertarung di Medan Hukum.
Pada tanggal 21 April, bertepatan dengan Hari Kartini, bukan sekadar Peringatan yang berlangsung—melainkan Perjuangan yang dilanjutkan.
Ketika Meja Hijau Menjadi Medan Juang Di Ruang Sidang, tidak ada Sorak-sorai. Tidak ada Bendera yang Berkibar. Namun di sanalah Pertarungan Sesungguhnya Terjadi.
Advokat Rikha Permatasari melangkah bukan hanya sebagai Kuasa Hukum, tetapi sebagai Penjaga Kehormatan—Berdiri untuk membela Wartawan Amir dalam Sidang Praperadilan.
Ini bukan sekadar Pembelaan. Ini adalah Perlawanan terhadap Ketidakadilan.
Membela Satu, Menjaga Semua Perjuangan ini bukan milik satu orang. Ketika satu Wartawan dihadapkan pada Tekanan Hukum, maka:
Suara Jurnalisme sedang diuji Kebebasan Informasi sedang di Pertaruhkan Marwah Profesi sedang di Gugat
Membela Amir berarti Menjaga Martabat seluruh Jurnalis di Negeri ini. 🔥 Semangat Kartini yang Menyala Kembali Semangat Raden Ajeng Kartini bukan hanya tentang masa lalu.Ia adalah Api yang terus Hidup dalam setiap Keberanian melawan Ketidakadilan.
Hari ini, api itu Menyala: dalam Argumentasi Hukum dalam langkah Tegas di Persidangan dalam Keberanian menghadapi Tekanan Ini adalah Kartini Masa kini—Berjuang bukan dengan kata-kata saja, tetapi dengan tindakan NYATA, Langkah Konkret.
Seruan Perjuangan: Bersatu Tanpa Sekat Perjuangan ini membutuhkan lebih dari Keberanian Individu. Ia membutuhkan Persatuan. Tidak ada Kubu. Tidak ada Perpecahan. Yang ada hanyalah Satu Barisan: Barisan KEBENARAN. Jangan biarkan Perjuangan ini di Lemahkan. Jangan biarkan kita dipecah.
Dari Meja Hijau untuk Negeri Apa yang terjadi di Ruang sidang hari ini akan bergema ke seluruh Negeri. Jika KEBENARAN di Tegakkan: 👉 KEADILAN akan Hidup Namun jika KEBENARAN di Kalahkan: 👉 maka kepercayaan Publik akan Runtuh Inilah saatnya menentukan Arah Sejarah. Pahlawan Tidak Selalu Mengangkat Senjata
Pahlawan hari ini tidak selalu berdiri di medan Perang. Mereka berdiri di Ruang Sidang. Dengan Hukum sebagai Senjata. Dengan Keberanian sebagai Perisai. Advokat Rikha Permatasari telah memilih untuk Berdiri Di Garis Terdepan.
Sekarang pertanyaannya: Apakah kita akan Diam… atau ikut Berdiri Bersama? ✊ Mari Berjuang Bersama Untuk kebenaran. Untuk keadilan. Untuk marwah jurnalis. Karena sejarah akan mencatat: siapa yang Berjuang… dan siapa yang memilih Diam.(Tim/Imam)