Probolinggo, BeritaTKP.com – AF bocah berumur 12 tahun diketahui sedang bermain bersama 3 temannya Minggu (22/5/2022) kemarin pagi. Lalu tiba-tiba ia hendak ikut pamannya memandikan ternak di sungai, tapi saat hendak memandikan ternak ia malah tenggelam dan tewas.
Polisi saat olah TKP di sungai tempat AF tenggelam
Lokasi sungai tidak jauh dari rumahnya di Desa Legundi, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo. Di tempat itu, warga setempat memang biasa memandikan ternak mereka.
Korban sendiri yang masih kelas 5 SD sebenarnya sedang bermain dengan tiga temannya saat itu. Ltf 11, Msl 6, dan Na 8. Mereka masih satu dusun.
Tak lama bermain sekitar pukul 10.00, mereka bertemu dengan Usm, 25, paman korban. Dia hendak memandikan sapi dan kambing di sungai Watu Ewuh. Mereka pun ikut Usm ke sungai untuk memandikan ternak.
“Sesampai di sungai itu, korban dan teman-temannya segera melepas pakaian. Mereka bermaksud mandi, sekaligus memandikan sapi dan kambing milik pamannya,” terang Kapolsek Bantaran AKP Sugeng.
Dua rekan korban, Msl dan Na kemudian menyeberang ke utara sungai. Mereka lantas duduk di batu yang ada pinggir sungai. Tak lama kemudian, Na dan Msl mencari rumput di pinggir sungai. Sementara paman korban dan Ltf memandikan sapi dan kambing di sungai sebelah timur. Korban sendiri duduk tak jauh dari lokasi tempat memandikan tenak, sekitar tujuh meter.
“Setelah itu Ltf, bermaksud meminta korban untuk membantunya memandikan kambing. Namun saat menoleh ke tempat korban duduk, korban sudah tidak ada,” terang perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu.
Ltf pun langsung mencari korban. Mendekati batu tempat korban terakhir duduk. Saat itulah, dia melihat rambut korban mengapung di sungai. “Hanya melihat rambut yang mengapung. Kedalaman Sungai tersebut sekitar setengah meter lebih,” lanjut AKP Sugeng.
Ltf pun berteriak memberitahu paman korban, Usm. Saat itu juga Usm mengangkat korban dan membawanya ke pinggir sungai. Usm juga berusaha meminta bantuan warga sekitar untuk membawa korban ke rumahnya.
“Karena dirasa masih bisa diselamatkan, pihak keluarga membawa korban ke Pukesmas Bantaran. Namun, menurut petugas Pukesmas korban sudah meninggal saat sampai di Puskesmas,” terangnya
Pihak keluarga langsung melaporkan kejadian tersebut ke Kades Legundi yang selanjutnya melapor ke Polsek Bantaran. Sementara keluarga korban menerima kejadian itu sebagai musibah. Mereka keluarga menolak korban diotopsi.
“Kami sudah melakukan olah TKP. Keluarga korban menolak otopsi pada korban. Mereka menerima kejadian itu sebagai kehendak Allah dan membuat surat pernyataan menolak otopsi,” tuturnya.
Bendahara Desa Legundi Bambang menambahkan, petugas Puskesmas Bantaran sempat memeriksa kondisi tubuh korban. Menurut keterangan petugas Puskesmas, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan maupun penganiayaan.
“Karena itu, pihak keluarga membuat pernyataan menolak otopsi. Keluarga meminta jenazah korban langsung dibawa ke rumah duka dan dimakamkan,” kata Bambang.
Bambang menambahkan, sungai di dusun mereka sebenarnya aliran airnya cukup tenang. Bahkan, warga setempat biasa memandikan ternak di sungai itu.
Tidak hanya itu. Orang dewasa dan anak-anak juga biasa mandi di sana. Sebab, memang air sungai dangkal. Sehingga, mereka tidak khawatir mandi di sungai.
Selama ini juga belum pernah ada warga, terutama anak-anak yang tenggelam di sungai itu. Baru pertama kali ini ada anak-anak warga setempat yang jadi korban.
“Entah ya kalau mungkin korban punya sakit tertentu. Soal itu kami tidak tahu,” tutur Bambang. (Din/RED)





