ILUSTRASI.

Surabaya, BeritaTKP.com – Rombongan orang mengaku korban penipuan investasi DRH melapor ke Polda Jatim. Korban penipuan berkedok investasi bodong ini tercatat sebanyak dua ribu orang di seluruh Indonesia. Mereka merugi hingga Rp 15 miliar.

Didampingi oleh sang kuasa hukum, para korban penipuan ivestasi yang mengatasnamakan DRH ini telah membuat laporan kepolisian. Jhonny Sopar Herianto, kuasa hukum korban mengatakan, para korban berasal dari seluruh Indonesia namun mayoritas dari daerah Surabaya, tapi ada juga dari NTT, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

”Saya mendampingi beberapa korban penipuan investasi yang mengatasnamakan DRH. Kita sudah buat laporan dan berharap Polda Jatim segera menindak dan hak korban bisa dikembalikan, untuk pelaku juga semoga bisa ditangkap secepatnya dan menerima konsekuensi,” ujar Jhonny Sopar Herianto selaku kuasa hukum para korban, Kamis (24/8/2023).

Dilansir dari Beritajatim, adapun modus yang dipakai pelaku dalam melakukan penipuan, yakni dengan menawarkan investasi dengan komisi sampai 40 persen dari modal yang ditanamkan. Korban akan diberi username untuk masuk ke sebuah aplikasi bernama DRH Investment. Namun aplikasi itu akhir-akhir ini tidak bisa dibuka. “Dia (terlapor) ngakunya trading. Jadi di aplikasi itu gak bisa diapa-apakan, user cuma bisa mantau aja. Korban dapat username setelah setor uang yang ditransfer ke rekening pribadi, bukan rekening perusahaan,” lanjutnya.

Para korban diketahui ada yang sudah menerima keuntungan, namun tak sedikit dari mereka yang masih belum menerima keuntungan apapun. Hal ini tak sesuai dengan pernyataan terlapor yang menjanjika korban tanam modal misal USD100 setelah 90 hari jadi USD500. Ternyata, sebelum 90 hari pelaku ini tidak ada respon. Sedangkan per orang, ada yang sudah invest sampai di angka Rp500 juta.

Aplikasi ini muncul September 2022 lalu baru booming, di Surabaya ini ada foundernya, tapi belum sampai 90 hari itu foundernya menghilang. Foundernya sendiri tinggal di Surabaya dan mengaku sebagai pengusaha. ”Jadi para korban ini mereka dibuatkan grup menawarkan di situ, ada juga yang face to face atau kopi darat. Jadi mereka mengumpulkan korbannya, menceritakan kesuksesan mereka supaya korban tergiur investasi. Pada korban sendiri tak kenal dengan terlapor, ada satu orang direkrut disuruh bercerita. Awalnya memang dikasih dengan keuntungan yang dijanjikan, akhirnya gagal bayar setelah korban investasi lebih besar lagi,” bebernya.

Korban pertama ada yang mendapat terus di investasikan lagi, bahkan ada yang sampai jual rumah dan gadai mobil dengan harapan semakin besar modal yang masuk maka semakin besar hasilnya, ternyata sebaliknya. “Saat ini hanya satu terlapor, kita fokuskan ownernya itu yang bernama Adi Wicaksono dia juga sebagai influencer,” tegasnya. (Din/RED)