NGADA, BeritaTKP.com – Kepolisian masih mendalami penyebab pasti meninggalnya seorang bocah sekolah dasar berinisial Yohanes alias YBS (10) yang ditemukan tewas gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu fokus penyelidikan adalah memastikan ada atau tidaknya unsur perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Kepala Sekolah SD Negeri Rj, Maria Ngene, memastikan tidak ditemukan indikasi perundungan terhadap korban selama berada di sekolah. Ia mengaku telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian bersama sejumlah guru.
“Iya, kami sudah memberikan keterangan kepada polisi,” kata Maria, Sabtu (7/2/2026).
Maria menegaskan, korban dikenal sebagai anak yang berperilaku baik dan memiliki hubungan yang dekat dengan teman-teman sekelasnya.
“Saya pastikan tidak ada bullying. Kami ini anak-anak desa, hampir semuanya anak petani. Tidak ada budaya saling menghina atau membully,” ujarnya.
Menurut Maria, Yohanes selama ini tidak pernah menunjukkan perilaku menyimpang ataupun terlibat masalah di sekolah.
“Dia anak baik, ramah, dan tidak pernah membuat keributan,” ucapnya.
Terkait isu kurangnya perlengkapan belajar korban, pihak sekolah mengaku tidak menerima laporan khusus. Maria menjelaskan, pemantauan kebutuhan pribadi siswa umumnya menjadi tanggung jawab wali kelas.
“Saya belum mendapat informasi soal kekurangan perlengkapan belajar. Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui. Apalagi ini masih awal semester,” jelasnya.
Selama mengikuti proses belajar mengajar, lanjut Maria, korban tidak pernah menyampaikan keluhan ataupun menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis.
Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino membenarkan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Polisi telah memeriksa pihak sekolah, termasuk guru korban, untuk menelusuri kemungkinan adanya perundungan.
“Penyidik memeriksa pihak sekolah untuk memastikan apakah korban mengalami bullying atau tidak. Ini masih kami dalami,” ujarnya.
Berdasarkan hasil visum, kata Andrey, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Motif sementara karena putus asa dan bunuh diri. Ini murni niat korban. Selama ini korban juga tidak memiliki handphone,” ungkapnya.
Penyelidikan kasus ini terus dilakukan untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.(æ/red)





