Batu,Berita  TKP.Com – Pembangunan jalur penyelamatan yang digagas relawan dan warga Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu di jalur Klemuk sudah mencapai 80 persen setelah pengerjaan yang dilakukan sekitar 1,5 bulan.

Namun pembuatan jalur penyelamatan yang digagas secara swadaya oleh warga setempat dengan menghabiskan dana sekitar Rp 50 juta ternyata tak membuat pihak pemerintah Kota Batu senang.

Terlebih pihak yang berwenang yakni Dinas Perhubungan Kota Batu yang menilai pembangunan yang dibuat warga ini tidak sesuai dengan standard keselamatan.

” Dulu izinnya hanya penutupan jalan. Saya kira mereka mau buat jalan setapak.Tapi ternyata buat jalur penyelamat. Semua yang dibuat tidak sesuai standard. Mungkin kami nanti akan buat sendiri saja. Sebab pembuatan seperti itu tidak asal buat saja. Harus ada hitungannya,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu, Imam Suryono, usai Rakor FLLAJ beberapa waktu lalu.

Ditambahkannya jika pihak Dishub Kota Batu sama sekali tidak diajak koordinasi secara detail. Warga juga tidak melayangkan izin pembuatan jalur penyelamat kepada Dishub.

“Kalau mau buat jalur penyelamatan harusnya sebelum dibangun dilakukan perhitungan terlebih dahulu. Mulai lebar, bentuknya harus menanjak, di dalamnya harus ada pasir untuk menahan laju kendaraan dan konturnya bergelombang, ” tegasnya.

Adanya statment yang disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Kota Batu ini sontak membuat relawan sekaligus Warga Songgokerto, yakni Suliyanto geram.

Sebab niat baik yang diinisiasi Warga Songgokerto untuk memberikan penyelamatan kepada pengguna jalan Jalur Klemuk dianggap salah.

“Lebih baik kami Warga Songgokerto langsung beraksi. Dari pada nunggu Dishub terlalu lama. Mereka terlalu banyak wacana dan teori. Tapi prakteknya nol. Maka dari itu kami buat jalur penyelamat ini sendiri secara swadaya,” tegas Suliyanto, Minggu (19/03).

Dia juga menampik, pernyataan Dishub yang menyebut jalur penyelamat itu tak sesuai teknis.

Suliyanto membeberkan, jalur penyelamat itu sudah sangat layak. Pihaknya membuat jalur penyelamat itu se safty mungkin.

“Ya tidak mungkin kami buat jalur penyelamat malah mencelakai korban. Di jalur penyelamat ini sudah dibuat menanjak, di dalamnya juga sudah ada kolam pasir untuk menahan laju kendaraan. Kolam pasir itu dalamnya mulai dari 30 centimeter hingga 1 meter. Selain itu juga ada ban untuk menahan benturan,” bebernya.

Dengan adanya standar itu, jalur penyelamat Klemuk dirasa sudah sangat aman.

Bahkan di tahap pengerjaan 80 persen, sudah ada beberapa kendaraan yang terselamatkan lewat jalur penyelamat itu.

“Sudah sangat aman. Ini lebarnya 8 meter, panjang ke dalam di jalur penyelamat pertama sekitar 40 meter, sedangkan di jalur penyelamat ke dua 30 meter. Jangankan sepeda motor dan mobil. Truk dan bus besar juga bisa masuk,” tegasnya.

Menurut Suliyanto, jika jalur penyelamat itu tidak sesuai teknis, seharusnya Dishub Kota Batu turun ke lapangan. Memberi tahu teknis seperti apa yang benar. Jangan hanya sekedar ngomong saja.

“Pembuatan jalur penyelamat ini murni swadaya masyarakat. Selain itu juga dari donatur, seperti hotel dan lainnya yang ada di Kawasan Songgokerto. Sedangkan dari Dishub tidak ada sama sekali. Mungkin mereka hanya nyumbang doa,” tegas dia.

Sebenarnya pihaknya telah mengusulkan pembangunan jalur penyelamat itu sejak tahun 2015 lalu.

Namun belum juga ada respon hingga saat ini. Akhirnya masyarakat menyepakati untuk melakukan swadaya pembangunan.

“Di jalur ini sering terjadi kecelakaan rem blong. Tertinggi terjadi pada saat waktu imlek kemarin. Ada sekitar 11 peristiwa kecelakaan. Untuk jenis kecelakaannya, didominasi oleh kendaraan sepeda motor, terutama sepeda motor matic. Sedangkan untuk mobil jumlahnya sedikit,” tutupnya.[Imam/Red]