Banyuwangi, BeritaTKP.com – Seorang pelajar yang masih duduk dibangku SMP telah menjadi korban bullying atau perundungan di Banyuwangi. Bahkan atas nasib yang dialaminya, pelajar berinisial G tersebut harus menjalani operasi patah tulang.
Pelajar berusia 13 tahun tersebut terpaksa dipotong pahanya sepanjang 4cm, karena telah terjadi infeksi pada luka yang dialaminya.
Kejadian ini diawali dengan G yang kembali bersekolah setelah 6 bulan menjalani pemulihan setelah operasi patah tulang, karena kecelakaan.
“Jadi anak saya itu habis kecelakaan dan mengalami patah tulang. Setelah 6 bulan menjalani perawatan pasca operasi, akhirnya bisa sekolah kembali. Kebetulan pembelajaran tatap muka sudah dimulai waktu itu,” jelas Imam Lutvy, selaku ayah korban, Selasa (11/1/2022).
Namun selang sebulan sekolah, atau tepatnya tanggal 20 November 2021, terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. G menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh temannya saat jam pelajaran berakhir. Salah seorang siswa yang berinisial D, mengambil alat bantu berjalan milik G. Beruntung, ada ada salah satu teman lainnya yang mencoba untuk mengambil alat bantu jalan tersebut dan mengembalikannya ke korban.
Namun, tak lama kemudian D kembali menghampiri korban. Kali ini, D menabrak kaki G yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi patah tulang. Korban pun menangis kesakitan, hingga akhirnya dia diantar pulang oleh salah satu guru disana.
“Kejadiannya di sekolah. Egrang atau alat bantu jalan anak saya diambil sama D, dan tidak dikembalikan. Kemudian ditabrak tepat di kaki yang habis operasi. Anak saya pun menangis kesakitan,” terang Imam.
Selama tiga hari di rumah, korban terus mengeluh kesakitan pada bagian kakinya. Pihak keluarga lalu membawa korban ke rumah sakit. Menurut hasil pemeriksaan dokter, ternyata tulang paha korban kembali patah serta plat penyangga tulangnya lepas akibat benturan tersebut. Akhirnya, dokter merekomendasikan agar korban kembali menjalani operasi.
“Waktu itu, anak saya tidak bisa segera dioperasi, karena alat yang dibutuhkan masih harus memesan terlebih dahulu. Akhirnya diminta menunggu 2 minggu,” papar Imam.
Namun karena kondisi korban semakin memburuk, keluarga langsung merujuk ke rumah sakit lainnya. Setelah dilakukan pembedahan, ternyata sudah terjadi infeksi pada tulang paha korban. Dokter merekomendasikan agar melakukan amputasi terhadap tulang paha korban agar infeksi tidak menjalar.
“Akhirnya pada bagian tulang atas harus dipotong sepanjang 2 cm dan 2 cm di bagian tulang bawah. Total 4 cm yang dipotong,” beber Imam.
Namun pihak keluarga D, terduga pelaku, tidak ada itikad baik untuk meminta maaf atas kejadian tersebut. Hingga akhirnya ia terpaksa harus membawa kasus ini ke ranah hukum.
“Sepenuhnya kami serahkan kepada hukum,” tandas Imam.
Kapolsek Licin, Iptu Dalyono juga membenarkan peristiwa tersebut. “Iya kamis sudah menerima informasi tersebut,” urai Dalyono.
Meski demikian, pihaknya menyarankan agar permasalahan ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, mengingat kembali terduga pelaku masih di bawah umur.
“Tadi dari keluarga korban maupun keluarga pelaku kita lakukan mediasi. Termasuk pihak sekolah juga kita hadirkan. Semoga permasalahan ini bisa diselesaikan secara baik-baik,” imbuh Dalyono. (k/red)






