Lamongan, BeritaTKP.com – Mayoritas nelayan kecil di kawasan Pantura Lamongan bergantung pada penjualan Rajungan. Namun, musim ini para nelayan yang biasa menggunakan alat tangkap bubu tersebut kelimpungan. Sebab, harga rajungan merosot, berakibat berhentinya ekspor rajungan.

Ketua Himpunan Nelayan Tradisional Indonesia (HNTI) Mukhlisin membenarkan rajungan mengalami penurunan harga dratis. Dia menilai sejumlah negara tujuan ekspor kemungkinan sedang panen. Seperti Amerika, Kanada, dan Eropa. Sebaliknya, dia memperkirakan, produk rajungan dari sejumlah negara di Asia Tenggara lainnya lebih dilirik. Padahal, diakui Muhlisin, salah satu faktor harga rajungan bergairah dari derasnya ekspor. 

‘’Sampai saat ini, ekspor rajungan masih sepi dan tak ada permintaan pengiriman,’’ imbuhnya.

Salah satu pengepul rajungan di Paciran Diki Sutomo membenarkan jika turunnya harga rajungan karena arus ekspor belum normal kembali. Dia mengaku sempat mencari informasi jika stok rajungan di sejumlah negara masih melimpah.

 ‘’Informasi dari pasar Eropa, penjualan di supermarket tak bergerak sama sekali untuk daging rajungan,’’ ucapnya.

Hingga kini, rajungan hasil tangkapan nelayan sekitar menyuplai ke sejumlah restoran sekitar. ‘’Kalau saya sendiri, tetap menampung akan tetapi dengan harga telah ditawarkan ke nalayan. Kalau mau silahkan saja, karena tak bisa melakukan pengiriman,’’ katanya.

Dia menjelaskan, awal bulan lalu harga rajungan sekitar Rp 110 ribu per kilogram (kg). Kini hanya Rp 35 ribu per kg. Sedangkan, daging rajungan semula Rp 350 per kg, yang turun menjadi Rp 150 ribu per kg.

‘’Saya kira, harga tersebut akan mengalami penurunan terus  nantinya,’’ ujarnya. (Din/RED)