DELI SERDANG, BeritaTKP.com – Aksi teror premanisme berkedok penagihan utang menimpa pasangan suami istri lanjut usia, JN (62) dan SP (54), warga Jalan Glugur Rimbun, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Rumah yang mereka tinggali mendadak menjadi sasaran lemparan bom molotov oleh orang tak dikenal pada Kamis (23/7/2026) lalu.

Akibat insiden tersebut, sebagian bangunan rumah, khususnya area jendela kamar, mengalami kerusakan dan gosong setelah disambar kobaran api.

Korban SP menuturkan, peristiwa mencekam itu terjadi ketika keluarganya tengah terlelap tidur. Tiba-tiba, ia mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah yang disusul dengan suara pecahan botol dan kemunculan kobaran api di dekat jendela kamar.

“Dari luar rumah dengar ada suara orang. Tak berapa lama, terdengar suara letupan seperti botol pecah dan kobaran api mengarah ke jendela kamar,” jelas SP.

Sadar rumahnya diserang api, SP langsung bergegas membangunkan suami serta anggota keluarganya yang lain. Mereka kemudian berjibaku memadamkan api dengan peralatan seadanya sebelum sempat merembet ke seluruh bangunan. Meski berhasil dipadamkan, insiden mengerikan ini meninggalkan trauma mendalam bagi pasutri lansia tersebut.

Diduga Ulah Rentenir karena Sang Anak Kabur Berdasarkan pengakuan SP, teror serupa ternyata bukan yang pertama kalinya mereka alami. Pada tahun sebelumnya, bagian kaca jendela sisi kanan rumah mereka juga pernah dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal.

Pasutri lansia ini menduga kuat aksi teror berulang tersebut didalangi oleh penagih utang atau rentenir yang mengincar anak mereka berinisial RY. Sang anak diketahui sudah kabur dari rumah dan tidak pulang selama dua tahun terakhir akibat menghindari kejaran para penagih utang.

“Rentenir itu pernah datang ke rumah dan menyebutkan bahwa anak saya punya utang sebesar Rp 200 juta. Jadi, karena anaknya yang dicari-cari tidak ada, sehingga kuat dugaan rumah kami jadi sasaran teror bom molotov,” ungkap SP.

Pihak keluarga sangat menyayangkan tindakan premanisme yang dilakukan pihak penagih utang. Menurut mereka, persoalan utang piutang seharusnya dapat diselesaikan secara baik-baik tanpa harus mengancam keselamatan jiwa keluarga di rumah.

“Kalau memang utang anak saya belum dibayar seharusnya bisa dibicarakan baik-baik. Bukan melakukan aksi teror seperti ini yang membuat kami merasa ketakutan,” keluhnya.

Polisi Lakukan Penyelidikan Merasa keselamatan jiwa dan keamanan keluarga terancam, korban telah resmi melaporkan insiden pelemparan bom molotov tersebut ke Mapolsek Pancur Batu agar segera ditindaklanjuti secara hukum.

Kapolsek Pancur Batu, Kompol Junaidi, saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan korban dan saat ini tengah mengumpulkan bukti-bukti untuk memburu para pelaku teror.

“Masih diselidiki terhadap pelaku pelemparan bom molotov,” pungkas Junaidi.(æ/red)