Mojokerto, BeritaTKP.com – Nasib malang menimpa seorang mahasiswa asal Universitas Surabaya (Ubaya). Mahasiswa bernama Erfando Ilham ,19, tersebut meninggal dunia usai mengikuti kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Ubaya (Mapaus) Adventure Training selama 3 hari di Gunung Penanggungan. Ia tewas saat melakukan perjalanan turun melalui jalur Tamiajeng, Trawas, Mojokerto.
Panitia Mapaus Adventure Training, Yoga Murdana ,22, membeberkan bahwa kronologi tewasnya mahasiswa tersebut bermula saat adanya pelatihan yang dimulai pada Rabu (19/1/2022). Pelatihan tersebut diikuti oleh 12 peserta. Salah seorang pesertanya adalah Erfando Ilham ,19, mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya.
“Peserta 12 orang, panitia 6 orang. Hari Rabu kami sampai di Pos Kedungudi (Kecamatan Trawas, Mojokerto) menginap satu malam,” pungkas Yoga, Minggu (23/1/2022).
Keesokan harinya, pada Kamis (20/1/2022) sekitar pukul 10.00 wib, para peserta mulai melakukan pendakian ke Gunung Penanggungan. Mereka menuju ke Lembah Kemuncak untuk kegiatan bivak alam dan kompas malam. Rombongan kemudian tiba di Lembah Kemuncak pada sekitar pukul 16.00 wib.
“Kegiatan di Lembah Kemuncak bivak alam dan kompas malam. Karena cuaca berkabut dan membahayakan para peserta, kompas malam kami tiadakan, diganti peserta istirahat,” tutur Yoga.
Setelah istirahat, para peserta diminta bangun untuk ibadah dan sarapan pada Jumat (21/1/2022) sekitar pukul 04.00 wib. Rombongan lalu naik ke Lembah Mayit dengan waktu tempuh tidak sampai satu jam dari Lembah Kemuncak.
Menurutnya, para peserta menjalani latihan panjat tebing dan repling di Lembah Mayit hingga sekitar pukul 17.00 wib. Setelah itu, rombongan kembali ke tempat kemah di Lembah Kemuncak.
“Kemudian ishoma. Jumat malam itu ada gim, yel yel, menghafal kode etik pecinta alam sampai sekitar pukul 21.00 wib. Setelah itu semua peserta istirahat,” paparnya.
Keesokan harinya, pada Sabtu (22/1/2022) sekitar pukul 09.00 wib, para peserta melanjutkan perjalanan ke Puncak Sara Klopo. Tempat ini masih jauh dari Puncak Gunung Penanggungan. Rombongan sampai di lokasi pada sekitar pukul 13.00 wib.
“Di lokasi ini kegiatannya navigasi darat, kompas siang, dan ada materi SAR mencari korban. Lalu sekitar pukul 16.00 wib kami sudahi dan dilanjut upacara, kesan dan pesan peserta, nyanyi lagu syukur,” bebernya.
Sebelum melanjutkan perjalanan, panitia sempat menanyakan kondisi para peserta. Saat itu, para peserta mengeluh capek. Perjalanan pun akhirnya dilanjutkan pada sekitar pukul 17.30 wib karena dinilai tidak ada keluhan yang krusial dari para peserta.
“Kami perjalanan turun ke basecamp melalui jalur Tamiajeng sekitar pukul setengah 6 sore. Dari Puncak Sara Klopo melipir kanan tembus di atas puncak bayangan, sekitar 10 menit dari puncak bayangan. Kemudian menuju puncak bayangan dan langsung turun,” terangnya.
Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo menjelaskan jika insiden yang dialami Erfando terjadi di bawah puncak bayangan Gunung Penanggungan pada Sabtu (22/1) sekitar pukul 22.00 wib. Diketahui puncak bayangan ada pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl.
Saat itu, korban dan teman-temannya dalam perjalanan turun menuju pos 4 di jalur pendakian Desa Tamiajeng, Trawas. Di tengah perjalanan, Erfando tiga kali terjungkal.
“Menurut keterangan para saksi, sebelum meninggal, korban sempat terpleset dan jatuh sebanyak tiga kali,” urainya.
Meski begitu, korban masih bisa berjalan sendiri untuk melanjutkan perjalanan turun gunung setelah terjungkal yang pertama dan kedua. Erfando baru tidak sadarkan diri setelah terjatuh untuk ketiga kalinya pada sekitar pukul 23.00 wib.
“Pertama terpleset dan terbentur batu hingga mengalami luka lecet di jari dan tangan sebelah kiri, terpleset kedua terkena kayu dan mengalami goresan di perut sebelah kiri, yang ketiga kalinya korban sudah mengalami kondisi kurang sadar,” terangnya.
Melihat Erfando tidak sadarkan diri, sejumlah temannya berupaya untuk memberi pertolongan pertama. Mereka juga meminta bantuan Tim SAR dari jalur pendakian Tamiajeng. Namun nahas, nyawa mahasiswa asal Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya tidak bisa diselamatkan.
“Sekitar pukul 00.00 wib korban meninggal dunia di jalur pendakian di atas pos 4 di bawah puncak bayangan Gunung Penanggungan,” urai Andaru.
Evakuasi jenazah Erfando dibantu Tim SAR jalur pendakian Tamiajeng. Jenazah mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya tersebut kemudian tiba di Puskesmas Trawas pada Minggu (23/1/2022) sekitar pukul 04.00 wib. Polisi telah melakukan visum luar terhadap jasad korban.
Jenazah mahasiswa Ubaya asal Kelurahan Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya ini lalu dipindahkan ke RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, Mojokerto sekitar pukul 10.00 wib. Untuk mengungkap penyebab kematian Erfando, jenazahnya akan diautopsi di RS Bhayangkara Pusdik Sabhara, Porong, Sidoarjo. (k/red)






