Surabaya, BeritaTKP.Com – SETIAP kampung pastilah mempunyai tradisi tersendiri dalam hal menyambut hari kemerdekaan. Ada yang mengadakan berbagai macam lomba,mulai dari yang lomba anak-anak sampai dengan orang dewasa.Tidak lebihnya tradisi yang dilakukan di Karang Taruna RT 03 RW 03 Kapas Krampung surabaya.Mereka mempunyai tradisi sendiri dalam menyambut hari kemerdekaan RI ke 71,salah satunya mengadakan acara tasyakuran bersama,Akan tetapi tasyakuran yang digelar kampung ini bukan hanya dimalam tujuh belasan,melainkan acara tasyakuran seusai turun panggung.Tujuannya tidak lain untuk permohonan rasa syukur,keselamatan serta kesuksesan yang diberikan kepada Tuhan Yang Maha Esa,selama acara agustusan berlangsung.
Acara sakral tersebut,dikemas secara sederhana oleh pihak Karang Taruna yang bekerjasama dengan pengurus kampung.Acara yang selalu melibatkan semua orang itu guna melancarkan dan memeriahkan acara Agustusan di kampungnya,Walaupun dibilang sederhana,tetapi acara tersebut mengandung makna yang sangat dalam,”Walaupun acara ini dibuat sederhana akan tetapi dapat merekat tali silatuhrami antara pemuda dengan masyarakat,Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat ,dapat saling menjaga kerukunan dan kebersamaan antar pemuda dan masyarakat,”terang cak lutvi sesepuh kapas krampung 3.
Tampak acara tasyakuran tersebut,warga yang bersama sama Karang Taruna dengan bersuka cita melangsungkan acara makan bersama ,seusai acara agustusan semua digelar,Kalau biasanya acara tasyakuran disediakan nasi tumpeng dengan lauk pauk ayam bekekek dan dibumbui dengan hasil bumi.Tetapi di acara tasyakuran ini,hanya menyediakan nasi putih yang ditaruh diatas nampan besar ,dibarengi dengan ikan panggangan tempe dan tahu+krupuk.Dengan begitu,mereka dapat merasakan rasa kebersamaan dalam melahap hidangan yang dibuat warga.Terlihat suasana kebersamaan yang khas,tanpa mengenal siapa mereka.”Acara ini memang sudah menjadi tradisi tahunan warga Krampung 3 ,kalau usai mendirikan panggung,jadi tidak ada perbedaan antara kita yang sudah tua dengan mereka yang masih baru menjadi anggota Karang Taruna.Dengan begini kita bisa merasakan kebersamaan tanpa memandang siapa mereka,”ujar Cak sifak senior Karang Taruna RT 03 Krampung.
Apabila kita telisik lebih mendalam makna dari acara tasyakuran atau biasa orang jawa katakan slamatan maknanya amat luas.Acara tersebut bisa dikatan syimbol rasa syukur yang diberikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,akan pemberian keselamatan dan kesuksesan yang diberikan kepada hambanya.Apabila dirunut dalam sejarah,tradisi slamatan itu sudah ada sejak zaman dahulu,karena sebelum agama Islam masuk ke tanah jawa melalui penyebaran para sembilan wali atau yang biasa dikenal dengan sebutan WALI SANGGA.Agama Hindu dan Budha,yakni agama yang masuk terlebih dahulu sebelum agama Islam masuk ke tanah Jawa,dua agama itu sudah memperkenalkan terlebih dahulu budaya tersebut pada masyarakat Jawa.Oleh sebab itu,para wali yang datang ke tanah jawa,menggabungkan tradisi leluhur dengan ajaran Islam yang dibawanya.Karena di dalam ajaran Islam sendiri,acara selamatan atau tasyakuran itu sama halnya dengan shadaqah atau sedekah.Dengan begitu orang yang melakukan itu akan terhindar dari berbagai marabahaya yang tidak di inginkan.karna itu sudah merupakan janji Allah SWT.
Oleh karna itu,acara tasyakuran yang digelar Karang Taruna RT 03 Krampung,tidak lain juga ingin terhindar dari berbagai macam bahaya yang bakal terjadi di kampungnya. Selain bermakna sedekah ,acara tasyakuran mempunyai makna yang lain,seperti menyambung tali sillahturahmi dan menciptakan kerukunan antar sesama dan lain agama,”Sebab dengan diadakannya acara tasyakuran,orang yang awalnya tidak pernah kenal dan bertemu. Lewat acara tersebut,dapat mengenal dan bertemu dengan sendirinya.Karna dalam ajaran agama manapun juga mengajarkan demikian.Dengan memperbanyak dan mempererat tali sillahturahmi,orang yang bersangkutan akan mendapatkan janji Tuhan,berupa rezeki melimpah,umur panjang dan persaudaraan yang kuat,”lanjut Cak lutvi.Disamping itu,Cak Sifak juga mengingatkan kepada generasi penerusnya,agar selalu membudayakan tradisi syukuran atau selamatan setiap malam tujuh belasan dan turun panggung.Kalau sampai tradisi itu tidak dilestarikan,tradisi ini akan sedikit demi sedikit akan sirna ditelan moderenisasi zaman.”Pasalnya dengan menghadapi pasaran bebas yang mana kebudayaan asing bebas keluar masuk ke Indonesia.Kalau ini dibiarkan saja,para pemuda sebagai generasi penerus bangsa akan semakin lupa dengan budaya aslinya.Dengan begitu mereka akan menghilangkan budaya aslinya begitu saja.Malahan saya melihat budaya asing yang sudah masuk ke Negara kita ini,lebih condong merusak generasi penerus bangsa.Salah satunya jalan yang kita tempuh yakni mengadakan setiap tahun tradisi-tradisi seperti tasyakuran di malam tujuh belasan dan usai turun panggung,”tandas pria yang humoris itu.
Tidak menutup kemungkinan bukan hanya acara tasyakuran saja yang akan kami adakan tiap tahunnya.Insya allah permainan-permainan tradisional seperti patelele dan tekong-tekongan akan kita angkat sebagai perlombaan tetap kampung.Akan tetapi permainan ini akan kolaborasi sesuai kemajuan zaman,”imbuhnya lg serius,”sembari menata kumis tpisnya. @(Tikno)