KUPANG, BeritaTKP – Seorang siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), diamankan polisi setelah diduga melakukan penyerangan terhadap gurunya. A (16), siswa kelas II jurusan Nautika Kapal Niaga, diduga menikam guru Bahasa Inggris berinisial Soleman Malo alias Eman (27) di asrama sekolah.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (12/8/2026) malam di asrama SMK Pelayaran, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

Kapolsek Kota Lama, AKP Zainal Arifin, menjelaskan kejadian bermula ketika korban sedang beristirahat di kamar asrama. Terduga pelaku kemudian datang dengan menutupi wajahnya menggunakan kaus olahraga.

A kemudian mengetuk dan menggedor pintu kamar sambil memanggil korban. Karena pintu tidak segera dibuka, pelaku diduga mendobrak pintu hingga terbuka.

Setelah berhasil masuk, A diduga langsung menyerang korban menggunakan pisau.

“Dugaan ini diperkuat karena ada teriakan ‘Pak, Pak’ sebelum pelaku menggedor pintu dan masuk menikam korban,” ujar Arifin.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka pada bagian kepala. Luka robek di kepala bagian atas membuat korban harus mendapatkan 11 jahitan, sedangkan luka di bagian kepala sebelah kiri mendapat 13 jahitan.

Usai melakukan penyerangan, A melarikan diri dari lokasi. Teriakan korban kemudian didengar sejumlah siswa yang berada di sekitar asrama.

Para siswa selanjutnya membawa Eman ke RSUD SK Lerik Kota Kupang menggunakan kendaraan milik warga untuk mendapatkan perawatan.

“Korban saat ini masih dirawat di RSUD SK Lerik Kota Kupang sehingga belum dimintai keterangan oleh penyidik,” jelas Arifin.

Polisi Tangkap Pelaku di Rumah Kos

Setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut, polisi langsung melakukan penyelidikan. Petugas juga mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Dari hasil penyelidikan, polisi mengetahui keberadaan A yang kemudian dilacak hingga sebuah rumah kos di Jalan Anggrek, Bimoku, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima.

A berhasil diamankan polisi pada Kamis (13/8/2026) siang.

Saat ini, siswa tersebut telah dibawa ke Mapolsek Kota Lama untuk menjalani pemeriksaan. Polisi juga masih mencari barang bukti yang diduga digunakan dalam penyerangan.

“Kami masih berupaya menemukan barang bukti pisau yang dipakai terduga pelaku untuk menikam korban. Selain itu, kami masih meminta keterangan dari sejumlah saksi termasuk beberapa guru dan rekan terduga pelaku,” kata Arifin.

Mengaku Sakit Hati karena Sering Diejek

Dalam pemeriksaan awal, A mengaku tindakannya dipicu rasa sakit hati. Ia menyebut dirinya beberapa kali mendapat perkataan yang menurutnya merendahkan, termasuk disebut “kampungan”.

A juga mengaku perkataan tersebut tidak hanya menyasar dirinya, tetapi berkaitan dengan latar belakang daerah asal dan keluarganya.

“Saya sering disebut kampungan, singgung orang tua saya dan kampung halaman saya di Alor sehingga saya sakit hati,” ungkap A.

A diketahui berasal dari Kabupaten Alor dan baru sekitar dua tahun tinggal di Kota Kupang. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP di Kabupaten Alor, ia melanjutkan sekolah di SMK Pelayaran Lasiana.

Berbeda dengan sebagian teman-temannya yang tinggal di asrama sekolah, A diketahui tinggal di sebuah rumah kos di kawasan Jalan Anggrek, Bimoku.

Menurut pengakuannya, rasa sakit hati tersebut telah lama dipendam. Ia bahkan menyebut bukan hanya dirinya yang merasa tidak nyaman dengan perkataan korban.

“Saya sakit hati dan dendam karena korban sering merendahkan kami, apalagi kami dari daerah. Bukan saya saja yang tidak suka dengan dia, tapi banyak teman yang tidak suka dengan dia,” ujarnya.

Datang ke Asrama Membawa Pisau

Perselisihan tersebut disebut kembali memuncak pada Rabu malam. A mengaku kembali mendengar ucapan yang dianggap menyinggung dirinya dan keluarganya.

Ia kemudian mengambil sebuah pisau dapur dari tempat kos dan pergi menuju asrama sekolah untuk menemui korban.

Sesampainya di kamar korban, A mengetuk pintu. Karena tidak dibuka, ia mengaku mendobrak pintu sebelum kemudian terjadi penyerangan.

“Saya ketuk pintu kamar tapi tidak dibuka, jadi saya dobrak pintu kamar hingga terbuka dan langsung menikam korban beberapa kali,” ujarnya.

Setelah kejadian, penghuni asrama dan warga sekitar berusaha mengejar A. Namun, pelaku berhasil melarikan diri dari lokasi.

A mengaku sempat membawa pisau tersebut ketika melarikan diri sebelum akhirnya membuangnya di suatu tempat.

“Setelah kejadian, masyarakat kejar saya sehingga saya kabur sambil bawa pisau dan saya buang. Saya tidak tahu persis pisau saya buang di mana,” katanya.

Polisi kini masih mendalami kasus tersebut, termasuk mencari barang bukti pisau serta meminta keterangan dari para saksi. Sementara korban masih menjalani perawatan di rumah sakit dan belum dapat diperiksa penyidik.

Perkara ini selanjutnya akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, sementara polisi masih melengkapi pemeriksaan untuk mengungkap seluruh rangkaian kejadian.(æ/red)