METRO, BeritaTKP.com – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Lampung angkat bicara terkait misteri kematian tragis seorang dokter muda atau mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Muhammad Zulfikar Drake (25), yang ditemukan tak bernyawa di dalam kamar mandi Guest House Sakinah, Kota Metro, Lampung, pada Selasa (21/7/2026) malam.

Ketua IDI Wilayah Lampung, dr. Josi Harnos, menegaskan bahwa berdasarkan hasil penelusuran serta keterangan dari rekan-rekan sejawat maupun pihak Rumah Sakit Sukadana tempat korban bertugas, pihaknya tidak menemukan adanya indikasi perundungan (bullying), tekanan mental, maupun beban kerja berlebihan (overwork).

“Kami sudah meminta keterangan teman-teman sejawat dan dokter pendamping. Tidak ditemukan adanya bullying, tekanan pekerjaan yang berlebihan, maupun burnout. Jam kerja dan pendampingan berjalan sesuai ketentuan,” ujar dr. Josi, Kamis (23/7/2026). Ia menambahkan, jika memang terdapat masalah tekanan kerja, kondisi serupa seharusnya juga dirasakan oleh dokter muda lainnya yang bertugas bersama korban.

Penyebab Pasti Belum Disimpulkan Akibat Keluarga Tolak Autopsi Kendati demikian, IDI menyatakan bahwa penyebab pasti kematian Zulfikar belum dapat dipastikan secara medis. Hal ini dikarenakan pihak keluarga korban memutuskan untuk menolak dilakukannya tindakan autopsi terhadap jenazah.

Dari hasil pemeriksaan luar yang telah dilakukan, tim medis tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan fisik ataupun luka yang mengarah pada tindak pidana kejahatan. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan adanya penyakit bawaan atau kondisi medis yang belum terdiagnosis sebelumnya (underlying disease), meski hal tersebut juga tidak bisa dipastikan tanpa pemeriksaan autopsi internal.

Usulkan Skrining Kesehatan untuk Calon Dokter Menanggapi insiden duka ini, IDI Lampung mengambil langkah antisipatif dengan mengusulkan kepada Kementerian Kesehatan agar dilakukan evaluasi sistematis. IDI meminta agar setiap calon dokter internship atau koas diwajibkan menjalani skrining atau pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum mereka diterjunkan ke rumah sakit penempatan.

Langkah ini dinilai krusial agar riwayat penyakit penyerta atau kondisi medis tertentu yang tidak disadari dapat dideteksi lebih dini guna menghindari kejadian serupa di kemudian hari. Saat ini, proses penyelidikan resmi terkait peristiwa tersebut masih terus berjalan ditangani oleh pihak kepolisian.(æ/red)