GARUT, BeritaTKP.com – Aksi kekerasan menimpa seorang petugas penjaga perlintasan sebidang (JPL 227) di Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Petugas tersebut dikeroyok oleh sekelompok pemuda setelah mencoba menegur seorang pengendara sepeda motor yang nekat menerobos palang pintu kereta api yang sudah tertutup.
Insiden bermula ketika petugas tengah menjalankan prosedur pengamanan untuk KA Serayu yang akan melintas. Namun, secara tiba-tiba seorang pemotor nekat menerobos pintu perlintasan yang sudah tertutup rapat. Petugas kemudian memberikan teguran spontan demi keselamatan pengendara tersebut.
Aksi Pengeroyokan Teguran tersebut rupanya menyulut emosi pelaku. Tidak berselang lama, pemotor tersebut kembali mendatangi pos jaga dengan membawa tiga orang rekannya. Tanpa basa-basi, mereka langsung mengeroyok petugas yang sedang bertugas hingga korban mengalami luka lebam di wajah dan luka gores di tangan. Setelah melakukan aksi brutal tersebut, para pelaku langsung melarikan diri.
Kecaman PT KAI Manager Humasda KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, mengecam keras tindakan arogan tersebut. Menurutnya, petugas telah menjalankan tugasnya sesuai prosedur untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api.
“Kami sangat menyayangkan sekaligus mengecam tindakan pengeroyokan terhadap petugas kami. Petugas tersebut telah menjalankan prosedur sesuai ketentuan dengan menutup perlintasan sebelum kereta api melintas,” tegas Kuswardojo, Selasa (14/7/2026).
Saat ini, pihak KAI Daop 2 Bandung telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat untuk memburu para pelaku agar dapat segera diproses hukum. KAI juga memastikan akan memberikan pendampingan penuh kepada petugas yang menjadi korban.
Kuswardojo kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya mematuhi aturan lalu lintas di perlintasan sebidang. “Setiap pengguna jalan wajib berhenti ketika sinyal berbunyi atau palang pintu mulai ditutup. Tindakan menerobos perlintasan tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga mengancam keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan lainnya,” tandasnya.(æ/red)





