Purworejo, BeritaTKP.com – Dunia perkeretaapian Indonesia berduka atas wafatnya , sosok yang dikenal luas sebagai masinis dalam tragedi Bintaro 1987. Pria yang akrab disapa Mbah Slamet itu meninggal dunia pada Rabu dini hari (3/6/2026) saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di wilayah Bekasi pada usia 87 tahun.

Kepergian pria kelahiran 18 Agustus 1939 tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, masyarakat, dan komunitas perkeretaapian nasional. Mbah Slamet meninggalkan seorang istri, empat anak, serta empat cucu.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatannya terus menurun akibat faktor usia. Karena itu, ia tinggal bersama salah satu anaknya yang merawatnya selama menjalani pengobatan dan kontrol kesehatan secara rutin.

Berdasarkan kesepakatan keluarga, jenazah almarhum dimakamkan di kampung halamannya di Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten . Warga setempat bersama pemerintah desa bergotong royong mempersiapkan seluruh prosesi pemakaman setelah menerima kabar duka dari pihak keluarga.

Menurut aparat desa, almarhum dikenal sebagai pribadi sederhana yang tetap menjalin hubungan erat dengan anak, cucu, dan cicitnya. Setiap momen Lebaran maupun libur panjang menjadi kesempatan bagi keluarga besar untuk berkumpul di kampung halaman.

Meniti Karier dari Bawah hingga Menjadi Masinis

Perjalanan hidup Mbah Slamet di dunia kereta api dimulai pada tahun 1964 ketika ia diterima bekerja di Perusahaan Negara Kereta Api, yang kemudian berkembang menjadi .

Berbekal pendidikan hingga tingkat SMP, ia mengawali karier sebagai petugas inspeksi yang bertugas melakukan pemeriksaan dan perawatan kereta sebelum diberangkatkan.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1966, Slamet mengikuti ujian calon asisten masinis dan berhasil lulus. Kariernya terus berkembang hingga diangkat sebagai masinis pada 1971. Selama bertahun-tahun, ia dipercaya mengoperasikan berbagai perjalanan kereta api dan dikenal memiliki rekam kerja yang baik.

Tragedi Bintaro yang Mengubah Segalanya

Nama Slamet Suradio kemudian menjadi bagian dari salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah transportasi Indonesia, yakni yang terjadi pada 19 Oktober 1987.

Peristiwa tersebut melibatkan tabrakan antara KA 225 dari Rangkasbitung dan KA 220 dari Tanah Abang di kawasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Kedua kereta yang sama-sama mengangkut ratusan penumpang itu bertabrakan di jalur yang sama saat melaju dengan kecepatan tinggi.

Kecelakaan tersebut menewaskan sekitar 156 orang dan menyebabkan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka, menjadikannya salah satu kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah Indonesia.

Saat kejadian berlangsung, Slamet bertugas sebagai masinis KA 225. Ia termasuk salah satu orang yang selamat dari insiden maut tersebut.

Dipidana dan Kehilangan Karier

Pasca kecelakaan, proses hukum menetapkan empat pegawai PJKA sebagai pihak yang dinilai bertanggung jawab, termasuk Slamet Suradio. Dalam persidangan, ia dinyatakan bersalah karena dianggap keliru menafsirkan sinyal keberangkatan yang diberikan petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA).

Menurut putusan pengadilan saat itu, sinyal yang diberikan seharusnya merupakan semboyan 46, yakni isyarat langsir maju. Namun Slamet bersikeras bahwa yang dilihatnya adalah semboyan 40 yang berarti kereta diperbolehkan berangkat.

Majelis hakim akhirnya menjatuhkan hukuman lima tahun penjara. Setelah menjalani masa hukuman, Slamet dibebaskan pada 1993 dan kembali tercatat sebagai pegawai perusahaan kereta api. Namun, ia tidak lagi diperkenankan menjalankan tugas sebagai masinis.

Setahun kemudian, pada 1994, kariernya berakhir setelah diberhentikan dari perusahaan.

Menjalani Masa Tua dengan Kesederhanaan

Usai meninggalkan dunia perkeretaapian, Mbah Slamet menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan. Ia kembali ke kampung halaman dan hidup sederhana bersama istrinya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia sempat berjualan rokok eceran. Meski pernah menjadi bagian dari peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah nasional, kehidupannya di masa tua berlangsung tenang dan sederhana.

Kini, setelah puluhan tahun membawa kisah yang melekat dengan tragedi Bintaro, Mbah Slamet telah berpulang. Namun namanya akan tetap dikenang sebagai salah satu tokoh yang tak terpisahkan dari sejarah panjang perkeretaapian Indonesia.(æ/red)