
Cianjur, BeritaTKP.com – Badan Gizi Nasional (BGN) merilis hasil investigasi terkait insiden keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dari hasil pemeriksaan, tim menemukan kandungan zat kimia nitrit yang sangat tinggi pada salah satu menu, yakni tumis pakcoy.
Temuan tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna. Berdasarkan hasil uji laboratorium, kadar nitrit pada menu sayuran tersebut disebut jauh melampaui standar batas aman yang mengacu pada The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).
Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, menyampaikan bahwa kadar nitrit yang ditemukan pada tumis pakcoy mencapai 11,85 mg/kg. Angka tersebut disebut 169 kali lipat lebih tinggi dari batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari.
“Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit sebesar 0,07 mg/kg berat badan per hari, tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg. Artinya, temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman,” ungkap Arie dalam keterangan yang disampaikan melalui Instagram resmi Sidak BGN, Senin (11/5/2026).
Meski demikian, hasil pemeriksaan Labkesda Jawa Barat menyatakan bahwa menu MBG pada periode 13–18 April 2026 negatif dari kontaminasi bakteri berbahaya. Beberapa bakteri yang dinyatakan negatif antara lain Salmonella sp., Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Bacillus cereus.
“Menu tersebut terbukti negatif Salmonella sp, S. aureus, E. coli, dan B. cereus. Namun, temuan nitrit ini sangat serius dan berpotensi berdampak luas pada keamanan pangan,” jelas Arie.
BGN menduga tingginya kadar nitrit dapat berasal dari penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan atau pencemaran air di area pertanian. Kandungan nitrit yang tinggi menjadi perhatian karena dapat berdampak pada kesehatan, salah satunya memicu kondisi methaemoglobinemia, yaitu keadaan ketika darah kehilangan kemampuan optimal untuk membawa oksigen.
Menurut Arie, kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh terasa lemas hingga muncul sesak napas akibat sel-sel tubuh kekurangan oksigen.
Sebagai tindak lanjut, BGN menyatakan akan segera menggelar pertemuan dengan Kementerian Pertanian. Pertemuan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi sistem pengawasan rantai pasok bahan pangan dalam program MBG, terutama pada bahan sayuran yang digunakan dalam penyediaan makanan.
Sebelumnya, seorang balita berinisial MAB (2) dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (23/4/2026) setelah sempat menjalani perawatan intensif. Korban diduga mengalami gejala keracunan massal di Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, usai mengonsumsi menu MBG.
Namun, Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur menyatakan masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kematian korban serta sumber keracunan yang dialami ratusan warga lainnya.
Kepala Dinkes Cianjur, Made Setiawan, menegaskan bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah keracunan tersebut berasal dari makanan program MBG atau faktor lain. Hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab pasti insiden tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keamanan pangan dalam program yang menyasar masyarakat luas. Pemerintah diharapkan memperketat pengawasan bahan pangan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.(æ/red)





