
MOJOKERTO, BeritaTKP.com – Seorang penjual es dawet di Mojokerto, Slamet Riyadi (61), mengalami trauma mendalam setelah dirinya viral dan dituduh melakukan pelecehan terhadap siswi sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jetis. Akibat fitnah yang menyebar luas di media sosial, Slamet bahkan sempat tidak berani berjualan selama tiga hari.
Tuduhan tersebut tidak hanya mencoreng nama baik Slamet, tetapi juga memukul kondisi psikologis pedagang sederhana yang selama ini justru dikenal sering membantu anak-anak menyeberang jalan sepulang sekolah.
Slamet mengetahui dirinya menjadi perbincangan di media sosial pada Kamis (5/2/2026) malam, setelah diberi tahu oleh cucunya, Danik (24). Saat itu, Danik menunjukkan berbagai komentar warganet yang berisi hujatan hingga ancaman pembunuhan.
Maklum, Slamet tidak memiliki telepon pintar dan tidak pernah menggunakan media sosial. Ia bahkan tidak mengetahui tuduhan tersebut hingga viral di dunia maya. Ancaman yang beredar membuat Slamet ketakutan dan memutuskan berhenti sementara berjualan es dawet.
“Tidak jualan selama tiga hari karena komentar-komentar di Facebook mau membunuh saya. Kemarin baru berani jualan lagi,” ujar Slamet saat ditemui di tempatnya berjualan, Selasa (9/2/2026).
Slamet telah berjualan es dawet di depan Lapangan Desa Jetis selama sekitar lima tahun. Setiap hari, ia mulai berjualan pukul 09.30 WIB hingga 17.00 WIB. Lokasi lapaknya berdekatan dengan sebuah SD negeri yang berada di jalan raya ramai dilalui kendaraan besar.
Karena kondisi tersebut, Slamet kerap membantu para siswa SD menyeberang jalan saat pulang sekolah. Niatnya semata-mata untuk menjaga keselamatan anak-anak di jalan yang padat lalu lintas.
Danik menuturkan, peristiwa yang terjadi pada Kamis siang membuat sang kakek pulang lebih awal dari biasanya. Kondisi Slamet saat itu terlihat sangat terguncang.
“Kakek siang itu sudah pulang. Tangannya gemetar, membawa gelas sampai jatuh dan pecah dua. Beliau diam dan tidak mau cerita karena khawatir nenek kaget. Nenek sakit stroke ringan dan punya sesak napas,” tutur Danik.
Ia menambahkan, selama tiga hari Slamet memilih tidak berjualan karena ketakutan atas ancaman yang diterimanya di media sosial.
Pada Kamis malam, Slamet didampingi Danik dan keempat anaknya mendatangi rumah orang tua siswi di Kecamatan Jetis. Pertemuan yang berlangsung di rumah Ketua RT tersebut akhirnya mengungkap bahwa Slamet tidak pernah melakukan pelecehan terhadap siswi SD sebagaimana tuduhan yang beredar.
Keesokan harinya, Jumat (6/2/2026) pagi, ibu siswi dan seorang perempuan berinisial NV mendatangi tempat berjualan Slamet untuk melakukan klarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf. Pada hari yang sama, video klarifikasi dan permintaan maaf tersebut diunggah di akun Facebook yang sebelumnya menyebarkan tuduhan, yakni Knyas Umak.
Danik menyebutkan, klarifikasi dan permintaan maaf tersebut dilakukan atas permintaan keluarga Slamet. Tujuannya untuk memulihkan nama baik sang kakek yang telah difitnah.
“Saat klarifikasi, ada juga ibu penjual kue di sini. Ia siap menjadi saksi bahwa kakek saya memang sering dan tulus membantu menyeberangkan anak-anak pulang sekolah, tidak punya niat apa-apa,” tandas Danik.(æ/red)





