
Gunungkidul, BeritaTKP.com – Harapan warga untuk memiliki masjid yang lebih layak justru berubah menjadi cerita pilu. Pembangunan Masjid Al-Huda di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terhenti setelah pengurus masjid diduga menjadi korban penipuan janji bantuan dana ratusan juta rupiah.
Masalah bermula ketika dua orang bernama Agus dan Hardiman mendatangi takmir masjid dengan membawa kabar adanya donatur besar yang siap membiayai pembangunan masjid hingga hampir selesai. Keduanya meyakinkan bahwa bantuan akan menutup hingga 99 persen kebutuhan pembangunan, dengan dana awal disebut mencapai Rp350 juta dan total bantuan hingga Rp400 juta.
Tak hanya itu, kedua oknum juga mengatasnamakan sejumlah pihak, mulai dari Yayasan Al-Bashiroh, bantuan dari Polda DIY, hingga donatur dari wilayah Purwodadi. Informasi tersebut membuat pengurus dan warga yakin sehingga diminta merobohkan bangunan masjid lama dalam waktu dua hari agar pembangunan baru bisa segera dimulai.
Permintaan itu pun dipenuhi. Namun setelah bangunan masjid diratakan, dana yang dijanjikan tak kunjung terealisasi. Bulan demi bulan berlalu, komunikasi dengan pihak yang menjanjikan bantuan semakin tidak jelas hingga akhirnya terputus.
Ketua panitia pembangunan sekaligus takmir Masjid Al-Huda, Budianto, mengungkapkan bahwa pihaknya baru menyadari telah menjadi korban penipuan setelah tidak ada kepastian sama sekali terkait realisasi dana.
“Kami dijanjikan pembangunan hampir sepenuhnya dibiayai donatur, tapi sampai sekarang tidak ada satu rupiah pun yang terealisasi,” ujar Budianto.
Setelah dilakukan penelusuran, klaim keterlibatan Yayasan Al-Bashiroh juga terbukti tidak benar. Pihak yayasan disebut tidak pernah berkomunikasi ataupun menyetujui usulan bantuan pembangunan masjid tersebut. Hal serupa terjadi pada nama-nama institusi dan donatur lain yang disebutkan oleh kedua oknum.
Akibat kejadian ini, pembangunan Masjid Al-Huda sempat terhenti. Padahal masjid tersebut merupakan satu-satunya tempat ibadah bagi sekitar 320 kepala keluarga atau 856 jiwa umat muslim di wilayah tersebut.
Meski merasa dirugikan, pengurus masjid memilih tidak membawa persoalan ini ke ranah hukum. Mereka memutuskan mengikhlaskan kejadian tersebut dan fokus mencari solusi agar masjid bisa kembali dibangun.
“Kami memilih ikhlas dan tidak menuntut secara hukum. Fokus kami sekarang bagaimana masjid ini bisa berdiri kembali dan digunakan untuk ibadah,” kata Budianto.
Saat ini, pembangunan masjid kembali diupayakan melalui swadaya masyarakat serta dukungan dari donatur baru, termasuk jaringan donatur dari luar negeri. Pengurus masjid juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap pihak-pihak yang mengatasnamakan lembaga atau institusi tertentu dengan janji bantuan tanpa kejelasan.(æ/red)





