Malang,BeritaTKP.com — Event-event tempo doeloe mulai banyak digelar sejak awal Juli lalu. Semuanya sukses menarik minat pengunjung. Sektor kuliner jadi salah satu magnet pengunjung. Disusul hiburan-hiburan di dalamnya.

Sejak Juli lalu, mulai banyak event tempo doeloe-an yang digelar di Malang Raya. Mayoritas mengangkat tema-tema lokal.Lengkap dengan sarana-sarana penunjangnya. Seperti stan pelaku UMKM yang di-setting dengan ornamen-ornamen zaman dulu. Juga jajanan-jajanan zaman dulu.

Jauh sebelum kebiasaan tahunan itu digelar, dulu ada event bernama Malang Tempo Doeloe.Adalah Dwi Cahyono, budayawan Malang yang memeloporinya. Dua kali mengajukan ide event itu ke Pemkot Kota Malang, dua kali pula gagasannya sempat ditolak.

Event yang disiapkan benar-benar terealisasi pada 2006 lalu.Sejak awal, Dwi tidak ingin festival yang berkonsep seperti pasar malam saja.

“Tetapi juga pembelajaran identitas Kota Malang pada masa lalu,” ujarnya.

Lalu lintas di sepanjang Jalan Ijen ditutup total untuk event tersebut. Pengunjungnya pun kompak memakai pakaian tradisional dan gaun zaman dulu.Mereka mengikuti tema yang saat itu sedang digelar. Aktivitasnya bermacam-macam.Ada yang berjualan di stan di sepanjang jalan.Ada juga seminar sejarah yang digelar.

Hiburannya pun beragam.Mulai dari tari-tarian, orkestra, layar tancap, dan musik keroncong. Pengunjung juga bisa menikmati souvenir khas Kota Malang yang dijajakan di event tersebut.Dwi mengaku butuh waktu satu tahun untuk mempersiapkan event itu.Ada sesi pendaftaran staf penyelenggara, penempatan panggung, hingga artis dan pemateri yang didatangkan.

Event tersebut selalu digelar lebih dari sehari. Bisa empat hari berturut-turut. Acara tersebut biasanya dihelat satu hari penuh atau selama 12 jam.Biasanya, Festival Malang Tempo Doeloe digelar mendekati hari ulang tahun Kota Malang. Antaranya akhir Maret ataupun akhir April.

Setelah enam tahun bergulir, Festival Malang Tempo Doeloe terhenti pada 2012.Salah satu penyebabnya karena analisis dampak lalu lintas yang menyebabkan kemacetan. Sebagai alternatifnya, Dwi menyebut telah menggelar festival Malang Tempo Doeloe secara parsial atau kecil-kecilan dalam beberapa tahun terakhir.

Event itu menginspirasi banyak pihak. Setiap tahun ada banyak kampung-kampung di Malang Raya yang mengikutinya. Mulai 30 Juni sampai 6 Juli lalu ada event bertajuk Malang Djadoel 2 di Taman Krida Budaya, Jalan Soekarno-Hatta (Soehat).Acara itu sukses menyedot animo ribuan warga.

Dua hari berselang, tepatnya mulai 8 Juli lalu ada Festival Genitri Tempo Doele. Event itu digelar warga RW 4, Kelurahan Pisangcandi, Kecamatan Sukun sampai 12 Juli lalu. Selanjutnya ada acara Semar Tempoe Doeloe 2 yang diselenggarakan warga RW 02, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing pada 20 sampai 26 Juli lalu. (red/imm)