SAMPANG, BeritaTKP – Polres Sampang terus mendalami kasus penyelundupan pupuk subsidi sebanyak 9,6 ton yang berhasil digagalkan di wilayah Karangpenang pada 3 April 2025. Menyikapi hal tersebut, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kabupaten Sampang mendatangi Mapolres Sampang, Selasa (29/4), untuk mendesak agar kasus ini dibongkar hingga ke akar-akarnya dan tidak berhenti pada pelaku lapangan semata.

Plt Koordinator Aliansi BEM se-Kabupaten Sampang, Hamdani, menegaskan bahwa penyelundupan pupuk subsidi adalah bentuk kejahatan sistemik yang mengancam keberlangsungan petani kecil.

“Kami mendesak Polres untuk mengusut tuntas otak intelektual di balik penyelundupan ini. Jangan hanya berhenti di sopir atau pelaku lapangan. Jika ini dibiarkan, petani akan terus menjadi korban,” tegas Hamdani saat audiensi.

Kapolres Sampang AKBP Hartono mengungkapkan bahwa pihaknya sempat mendapatkan tekanan dari pihak tak dikenal melalui sambungan telepon agar kasus ini dihentikan. Namun, pihaknya tetap berkomitmen untuk menyelesaikan perkara tersebut secara profesional.

“Ya, saya ditelepon pihak tak dikenal yang minta kasus ini dihentikan. Tapi kami tidak akan mundur. Kami komitmen menyelesaikannya,” tegas Kapolres di hadapan perwakilan mahasiswa.

Penyelidikan kasus ini kini telah memasuki tahap penyidikan. Sejumlah pihak telah dipanggil, termasuk perwakilan dari PT Pupuk Indonesia (PI), Dinas Pertanian, pihak distributor, hingga kios. Namun, salah satu pihak yang diduga menjadi otak penyelundupan diketahui telah mangkir dari dua kali pemanggilan.

“Pemanggilan pertama dan kedua tidak hadir. Jika ketiga tidak juga hadir, kami akan jemput paksa. Tidak ada kompromi,” lanjut Kapolres.

Sementara itu, Polres juga mempercepat pengawalan terhadap distribusi pupuk agar benar-benar tepat sasaran dan tidak kembali diselewengkan.

Kehadiran berbagai perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus dalam audiensi tersebut menegaskan bahwa pengawalan terhadap kasus ini bukan hanya insidental, tetapi bagian dari komitmen bersama untuk menegakkan keadilan pertanian di daerah.

Salah satunya adalah Soeta Atma Dilaga, Ketua BEM IKIP Widya Darma Regional 1, yang juga tergabung dalam struktur Aliansi BEM se-Kabupaten Sampang. Ia menekankan bahwa para mahasiswa mencurigai penyelundupan ini hanyalah puncak gunung es dari praktik mafia pupuk yang lebih luas.

“Kami khawatir ini hanya pengalihan. Bisa jadi ini hanya satu dari banyak kasus lain yang lebih besar. Jika tidak dibongkar tuntas, praktik penyelundupan akan terus terjadi dengan wajah baru. Kami dari aliansi BEM se-Kabupaten Sampang akan terus mengawal,” pungkas Soeta. (suta)