Abdul Rozaq (49), guru SMPN 5 Atap Singosari, saat menunjukkan luka bekas penganiayaan.

Malang, beritaTKP.com – Salah satu guru yang menjabat Wakil Kepala Sekolah SMPN 5 Satu Atap (Satap) Singosari, Kabupaten Malang, dilaporkan menjadi korban kekerasan fisik. Guru atas nama Abdul Rozaq (49) ini dihajar Kepala Sekolahnya sendiri yang bernama Anas Fachruddin (53).

Kapolsek Singosari, Kompol Ahmad Robial membenarkan adanya laporan tersebut. Laporan tersebut dilayangkan oleh Abdul Rozq ke Polsek Singosari, pada Sabtu (12/8/2023) lalu. Kini pihak kepolisian sedang melakukan proses pemeriksaan terhadap keduanya. “Semalam langsung kita mintakan visum,” kata Robial, Senin (14/8/2023) kemarin.

Dalam laporan polisi tersebut disebutkan bahwa dugaan kekerasan terhadap korban oleh oknum kepala sekolah pada acara perkemahan di SMPN 5 Satap Singosari. Kejadian itu bermula saat korban tengah mendampingi para siswa dalam acara perkemahan yang diadakan di halaman sekolah.

Sekitar pukul 21.00 WIB, terlapor yang tiba-tiba datang dan langsung memaki dan menunjuk nunjuk korban dihadapan peserta perkemahan. Sebelum menerima tendangan, Rozaq diminta untuk keluar dari ruangan oleh terlapor. Rozaq pun menuruti pemintaan tersebut. Nahas, ia malah menerima perlakuan tak mengenakan tersebut.

Dari pengakuan korban, terlapor telah melayangkan tendangan ke arah pinggang kanan korban menggunakan kaki kanan sebanyak dua kali. “Saat saya keluar, baru di depan pintu saya sudah mendapat tendangan dua kali. Satu kena, satu meleset karena dihalangi temen-teman,” terang Rozaq, Senin (14/8/2023).

Karena banyak saksi yang menyaksikan, ia pun tak membalas tendangan tersebut. Dirinya pun mengaku, lebih memilih untuk melanjutkan ke jalur hukum. “Saksi banyak, anak-anak sampai guru semua ada. Hanbi itu saya pulang dan konsultasi ke seseorang terus disuruh ke polsek,” bebernya.

Ditanya soal permasalahan yang memicu adanya penganiayaan tersebut, kata Rozaq karena perihal perekrutan salah satu guru. Rozaq dianggap terlapor tidak melakukan koordinasi dengan kepala sekolah terkait penerimaan guru. Sementara itu, proses perekrutan tersebut dilakukan oleh salah satu operator BOS pada Maret lalu.

Tak berangsur lama, pada Juli 2023 lalu, SMPN 5 Satap Sinhosari telah menerima beberapa lamaran dan melakukan wawancara. Saat sudah mendapatkan kandidat, Rozaq bermaksud memberitahu Anas, namun saat itu Anas tidak ada di lokasi.

Ia pun merasa keberatan karena dinilai melangkahi dirinya sebagai kepala sekolah. Sehingga, ia meluapkan emosinya ke grup Whatsapp sekolah. “Intinya dia merasa dilangkahi dengan perekrutan itu, sampai mengajak berkelahi. Akhirnya kejadian Sabtu kemarin, saya ditensang,” terang Rozaq.

Setelah kejadian itu berlangsung, Rozaq mengaku trauma sampai tidak ingin mengajar lagi jika terlapor masih berada di sekolah. “Saya nggak mau masuk kerja selama yang bersangkutan masih di SMP,” tutupnya.

Sementara itu, epala SMPN 5 Satap SIngosari, Anas Fahrudin mengaku bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Malang untuk melakukan klarifikasi. Dindik Kabupaten Malang akan melakukan mediasi dengan pelapor atau Rozaq.

Ia mengaku nekat melakukan perbuatan itu lantaran menilai perilaku korban kurang baik terhadapnya. Salah satunya yakni korban berperilaku indisipliner saat mengajar. “Selama ini dia indisipliner, rumahnya ada di Kalimantan, kalau pulang bisa izin dua sampai tiga bulan. Rozaq juga jarang ngajar, kalau ngajar anak-anak ditelantarkan,” terangnya.

Parahnya, kata Anas, Rozaq pernah melakukan pemalsuan tanda tangan miliknya. Ia melakukan tersebut untuk mengurus mutasi. Puncaknya, Rozaq juga menerima tenaga pendidikan sekaligus pegawai tata usaha (TU) tanpa seizinnya. “Jauh peristiwa ini, dia pernah scan tandatangan saya tidak izin dahulu. Tandatangan ini untuk pengajuan mutasi,” jelasnya.

Menanggapi viralnya hal tersebut, Anas berniat akan membuat laporan balik terkait dengan pemalsuan tanda tangan yang dinilai merugikan. “Saya juga siap melaporkan balik terkait pemalsuan tanda tangan,” pungkasnya. (Din/RED)