
Surabaya, BeritaTKP.com – Sebanyak puluhan remaja yang tergabung dalam gangster All Star diamankan kepolisian saat melakukan patroli bersama. Usut punya usut ternyata para remaja tersebut hendak melakukan tawuran pada Minggu (25/6/2023) pukul 03.00 WIB.
Kapolsek Simokerto, Kompol Dwi Nugroho mengatakan, saat ditangkap, para pemuda tersebut kedapatan membawa senjata tajam (sajam) hingga miras ketika akan beraksi. “Sekitar 03.30 WIB, kami amankan anak-anak tersebut di perempatan Jalan Pegirian dan Gembong Surabaya, ada yang masih berusia 14 tahun,” kata Dwi, Minggu (25/6/2023).
Penangkapan pertama dilakukan terhadap laki-laki berinisiak MRK yang kedapatan tengah mengayunkan sajam. Saat diselidiki, polisi kemudian mendapati beberapa rekannya berada di tempat lain dan berupaya melarikan diri.
Namun, selang beberapa menit usai membekuk MRK, Dwi dan para personelnya menemukan 4 pemuda lainnya di Jalan Kenjeran dan akan melakukan tawuran di depan Makam Rangkah Surabaya.
Kelima pemuda tersebut langsung diamankan dan menjalani pemeriksaan di Polsek Simokerto. Mereka adalah RD (14), warga Kalilom Lor Indah gang Dahlia, MRK (16), warga Sidotopo Wetan gang 3, MR (18), warga Jalan Kunti, AP (15), warga Tambak Segaran Wetan 1, dan Siswanto (19), warga Sidodadi gang 2, Kota Surabaya.
Saat proses penyelidikan, Dwi mengaku terkejut dengan pengakuan anggota junior dari geng All Star. Sebab, mereka mengaku sebenarnya ikut tawuran karena dipaksa dan diancam. Selain itu, mereka yang tertangkap juga membeberkan proses perekrutan anggota baru ke dalam geng All Star.
Kepada polisi, mereka mengaku jika para junior yang baru bergabung akan dipukuli agar mau loyal ke organisasi. Mereka bercerita jika modus awal perekrutan gangster All Star berawal dari satu circle pertemanan. “Jadi yang senior punya tongkrongan di luar, beberapa diajak masuk gangster All Star. Ketika masuk ada tes-tes yang harus dilalui,” ujar Dwi Nugroho, Senin (26/06/2023).
Setelah masuk, para junior akan dipasang-pasangkan. Ada yang menjadi admin, Joki dan eksekutor. Mereka yang berpasangan sebagai Joki dan Eksekutor bertugas berkasi di Jalanan Surabaya. “Antara joki dan eksekutor ini tidak saling kenal. Jadi sengaja dipasangkan untuk beraksi meneror warga Surabaya dengan aksi kekerasan dan intimidasi,” imbuh mantan Kapolsek Tegalsari itu.
Salah satu anggota gangster yang ditangkap Polsek Simokerto mengaku bahwa dirinya sempat menolak perintah kelompok All Star untuk menyerang warga. Namun, ia malah dipukuli oleh para senior dan terpaksa melakukan kehendak dari geng All Star.
“Jadi ketika tidak menurut itu dibully hingga dipukuli. Sehingga anak takut. Saya lihat di kantor Polsek kemarin memang ada yang drop sekali mentalnya. Ketika tidak nurut dipukuli, kalau menurut resikonya dengan polisi ditanggung sendiri,” tutur Dwi Nugroho.
Dwi Nugroho berharap agar para orang tua memperhatikan lingkungan dan pergaulan anak-anaknya untuk mencegah agar tidak bergabung ke kelompok-kelompok gangster yang merugikan masyarakat. (Din/RED)





