Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.

Surabaya, BeritaTKP.com – Sebanyak 10 sekolah menengah pertama (SMP) di Surabaya mengalami sepi peminat selama 4 tahun terakhir. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, akan merger sekolah-sekolah tersebut pada tahun 2024 jika terus masih sepi murid.

Hal itu diungkap setelah melakukan evaluasi penerimaan siswa baru dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta. Dan Selama 2 tahun tersebut, Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya akan memberikan pendampingan SMP Swasta tersebut.

“Kita dampingi, kita akan berbicara dengan swasta. Karena kasihan, kalau sekolah ini tidak dimerger, muridnya dua atau tiga, terus bagaimana operasional sekolah ini. Tapi bukan berarti (2023) dia tidak dapat murid, karena jika ditarik 4 tahun ke belakang pun, jumlah (muridnya) tetap sama. Kalau misalnya 2024 tidak bisa lagi, ya sudah (Di-merger),” kata Eri, Rabu (26/7/2023).

Eri menyebut, pada tahun ajaran 2023/2024, jumlah siswa SMP Negeri turun selama 2 tahun terakhir. Siswa yang diterima ke SMP negeri ada 17.044, sedangkan masuk ke SMP swasta ada 17.146 anak. “Jika tahun-tahun sebelumnya, SMP Negeri itu bisa menerima sampai 20.000 siswa, pada tahun 2021. Kemudian turun menjadi 19.000 siswa di tahun 2022,” sebutnya.

Ia menegaskan selama ini SMP Swasta di Surabaya tidak kekurangan murid, meski banyak peminat yang ingin masuk ke sekolah negeri. Tahun 2023, SMP negeri menerima 17.044 siswa. “Yang SMP swasta, hari ini sudah ada 17.146 siswa yang diterima SMP swasta. Namun ada 4.000 anak yang lulus (SD) belum kita ketahui, tapi ini biasanya mondok. Nah, ini nanti kita akan lihat,” jelasnya.

Pada tahun 2023, SMP swasta di Surabaya mendapatkan siswa terbanyak dibanding tahun sebelumnya. Sebab, biasanya SMP swasta menerima 16.000 siswa. “SMP swasta itu sebelum tahun 2023 menerima murid paling banyak 16.000. Tapi sekarang (Tahun 2023) menerima murid sekitar 17.000,” ujarnya.

Sementara Koordinator MKKS SMP Swasta Surabaya, Erwin Darmogo mengatakan pihaknya bersama pemkot akan menelusuri 4.000 lulusan SD yang belum masuk ke SMP negeri maupun swasta. Jika dari 4.000 lulusan SD itu tidak diterima di SMP negeri, dipersilahkan masuk ke SMP swasta. “Seperti arahannya Pak Wali tadi, bahwa bagi yang belum masuk sekolah (negeri), monggo memilih sekolah swasta yang sesuai dengan kemampuannya dan juga kebutuhan anaknya,” kata Erwin.

Erwin mengatakan, di Surabaya ada banyak pilihan SMP swasta. Mulai dari skala nasional hingga lembaga pendidikan yang berbasis agama. Tentunya memilih yang dekat dengan rumah dan sesuai dengan kemampuan dna kebutuhan anak-anak,” imbuhnya.

Terkait SMP swasta kekurangan siswa, MKKS sudah meminta Dispendik melakukan pendampingan dari segi mutu pendidikan sekolah hingga pembiayaannya. “Tadi disepakati kira-kira dua tahun ke depan, kalau tidak menunjukkan perubahan berarti, bisa di-merger. Tapi tentunya itu melalui proses semuanya, harus ada komunikasi, baik antara Dispendik dengan MKKS, sekolah, juga yayasannya,” pungkasnya. (Din/RED)